Sehati - Sehat Indonesiaku

AdMedika Health Blog

28 Aug

Hypertension the silent disease

By 
(0 votes)

Hipertensi biasa disebut sebagai penyakit gaya hidup. Dengan demikian, risiko penyakit ini lebih tinggi pada mereka yang memiliki gaya hidup tidak sehat. Hipertensi sering kali datang diam-diam tanpa menimbulkan keluhan apapun dan tidak memiliki gejala sampai timbul komplikasi.
Karena tidak menimbulkan gejala, rata-rata penderita memang tidak mengetahui dirinya mengidap hipertensi sebelum memeriksakan tekanan darahnya. Padahal deteksi dini diperlukan untuk mencegah komplikasi lebih lanjut. Sayangnya, banyak masyarakat yang masih enggan memeriksakan kesehatan terkait hpertensi. Sebagian besar merasa tidak perlu ke dokter kerna badannya dirasa baik-baik saja.

Salah satu faktor penyebab hipertansi adalah genetic (keturunan). Akan tetapi, factor genetic hanya akan munsul jika ada factor pemicu dari lingkungan seperti kegemukan, merokok, konsumsi garam tinggi, vetsin (msg), alcohol, stress, atau kurang olahraga. Itulah mengapa terkadang hipertensi disebut juga penyakit gaya hidup, yang tingkat risikonya lebih tinggi pada mereka yang tidak menerapkan gaya hidup.
Sebagian besar pasien dengan hipertensi tidak mengeluhkan gejala atau menunjukan tanda klinis tertentu yang berkaitan denga peningkatan tekanan darah. Namun, pada pasien dengan hipertensi yang berat, nyeri kepala sering dikeluhkan. Nyeri kepala yang khas, yaitu pada bagian belakang atas, sering dirasakan pada pagi hari oleh penderita hipertensi. Beberapa gejala lain yang mungkin dikeluhkan namun tidak spesifik untuk hipertensi adalah pusing, berdebar-debar, mudah lelah, dan impotensi.

Mengenal Hipertansi

Menurut Joint National Committee On Prevention Detection, Evaluation, and Treatment of High Blood Pressure (JNC7), Suatu komisi yang terdiri dari pakar-pakar hipertensi di Amerika Serikat, seseorang dikatakan menderita hipertensi apabila tekanan darah ≥ 140/90 mmHg. Disarankan, pemeriksaan tekanan darah dilakukan dua kali dengan waktu yang berbeda. Berdasarkan hasil kedua pemeriksaan tersebut, ditentukan rata-rata teakanan darah pasien dan dari situ dapat disimpulkan apakah pasien termasuk hipertensi atau tidak. Hipertensi dapat digolongkan menjadi dua jenis, yaitu hipertensi primer atau esensial dan hipertensi sekunder. Hipertensi primer atau esensial adalah hipertensi di mana tidak ada hal spesifik yang menjadi penyebabnya. Sekitar 90-95% hipertensi adalah jenis ini. Hipertensi sekunder, yaitu hipertensi yang disebabkan oleh kelainan atau penyakit lain, atau sleep apnea (sesak napas saat tidur).

Sebagian besar pasien hipertensi (92-94%) mengalami hipertensi esensial yang penyebabnya sulit ditentukan. Hipertensi esensial melibatkan berbagai system organ yang berperan dalam regulasi tekanan darah arteri. Pada orang dewasa, hipertensi esensial dipengaruhi oleh mekanisme system saraf, mekanisme ginjal, mekanisme pembuluh darah dan mekanisme hormone. Namun, pada sebagian kecil pasien yang mengalami hipertensi sekunder, penyebab hipertensi dapat diketahui dengan melakukan pemeriksaan diagnostic tambahan lainnya. Penyebab hipertensi sekunder yang dapat diidentifikasi adalah hipertensi yang disebabkan penyakit ginjal, hipertensi akibat kelainan endokrin dan hipertensi karena sebab lain. Seiring dengan pertambahan usia, risiko hipertensi juga turut meningkat. Namun, hal ini tidak berlaku untuk hipertensi sekunder yang disebabkan oleh penyakit tertentu. Selain itu, perlu duketahui pula bahwa umur bukan merupakan satu-satunya factor risiko hipertensi. Kejadian hipertensi lebih merupakan interaksi antara berbagai factor dalam diri individu yang memunginkan perubahan yang mendukung hal tersebut.

Hipertensi dan jantung coroner

Studi-studi manununjukan bahwa risiko kematian akibat penyakit jantung koroner dan stroke meningkat seiring peningkatan tekanan darah. Selain itu, penyakit jantung coroner merupakan penyebab kematian paling sering akibat hipertensi. Pada berbagai level tekanan darah, risiko absolut kematian akibat penyakit jantung coroner melebihi risiko kematian akibat stroke. Hipertensi merupakan salah satu factor risiko utama penyakit jantung coroner, kejadian stroke, gagal ginjal kronik dan gagal jantung kongesif. Oleh karena itu, tujuan dari menurunkan tekanan darah, melainkan juga untuk menurunkan kerukasan organ-organ lain yang diakibatkan oleh hipertensi. Hipertensi menyebabkan kerusakan pembuluh darah arteri secara perlahan. Akibat dari tekanan tinggi yang terus-menerus, dinding arteri akan terluka dan mengeras, sehingga terjadi peyempitan pembuluh darah di tubuh, termasuk pembuluh darah coroner. Selain itu tekanan darah yang tinggi akan menambah beban kerja jantung. 

Hipertensi Merupakan Salah Satu Faktor Risiko Utama Peyakit Jantung Koroner, Kejadian Stroke, Gagal Ginjal Kronik, dan Gagal jantung Kengesif. Berbagai macam factor dapat menyebabkan penyempitan pembuluh darah atau tyang dikenal sebagai aterosklerosis, dan merupakan factor risiko penyakit jantung coroner. Factor risiko penyakit jantung coroner yang dapat dikendalikan di antaranya adalah merokok, hipertensi, hiperkolesterolemia, kencing manis, kegemukan, kurang bergerakatau kurang olahraga, dan stress. Sedangkan factor risiko yang tidap dapat dikendalikan di antaranya adalah usia, laki-laki, rempuan menopause dan riayat keluarga.

Jauhi hipertensi dan risiko penyakit jantung coroner dengan menerapkan pola hidup sehat, yaitu berhenti merokok, berolahraga secara teratur, mengasup nutrisi yang seimbang, menjauhi stress, beristirahat teratur dan melakukan deteksi kesehatan melalui medical chek up rutin untuk menekan risiko sedini mungkin. Waspadalah terhadap hipertensi, karena ia bagaikan pencuri di tengah malam, diam-diam merusak tubuh bila hgaya hidup sehat mulai dilupakan. Dan yang tak kalah penting adalah, segera lakukan konsultasi dan pemeriksaan pada dokter jika anda meraksan gangguan ataupun gejala hipertesni seperti tersebut di atas!

Ditulis Oleh:

TIM Dokter Spesialis Jantung & Pembuluh Darah, EKA HOSPITAL BSD
TIM Dokter Spesialis Penyakit Dalam, EKA HOSPITAL BSD

Eka Hospital http://www.ekahospital.com/

Read 14849 times
Mitra Sehati

logo-footer PT. Administrasi Medika


iso-admedika telkomedikalogo metralogo telkomlogo
Official Social Channels   Facebook   Twitter   Twitter   Twitter