Sehati - Sehat Indonesiaku

AdMedika Health Blog

Monday, 10 October 2016 00:00

Rehabilitasi Pasca Stroke Part 2

Prinsip rehabilitasi medis pasca-stroke:

  1. Menstimulasi otot-otot yang mengalami kelumpuhan. Hanya ini jalan satu-satunya agar sel-sel saraf yang baru dapat “bergabung” dengan system yang mengatur gerakan tubuh tersebut. Tanpa stimulasi yang adekuat., sel-sel baru tidak akan tumbuh untuk memperkuat sel-sel lama yang mengalami masalah akibat stroke. Cara untuk menstimulasi adalah lewat fisioterapi.
  2. Memfasilitasi aliran darah ke area otak agar suplai maknan, zat gizi dan oksigen tetap tercukupi. Obat-obatan, vitamin neurotropic, atau herbal apa saja boleh diberikan asalkan rasional dan masih dalam batas wajar. Senam dan olahraga ringan juga membantu meningkatkan aliran darah ke otak.
  3. Mencegah dan menyembuhkan factor penghambat terutama factor psikologis. Depresi adalah salah satu factor penghambat ke arah pemulihan. Jika pasien dan keluarga memiliki jiwa yang sehat dan tetap semangat dalam menjalani proses terapi, bukan tidak mungkin proses kearah pemulihanpun lebih cepat darpada yang perkirakan. Konsultasi dengan psikiater atau psikolog bisa membantu membuka wawasan mengenai cara meminimalkan adanya factor-faktor penghambat kearah pemulihan, terutama factor di dalam diri pasien, dan mengobati depresi jika ditemukan. Selain itu, pasien dan keluarga diharapkan dapat menerima keadaan dirinya dengan tabah dan mampu melihat hikmah di balik cobaan yang di alami.
  4. Mencegah stroke terjadi lagi. Semua penyebab dan factor risiko terjadinya stroke harus diminimalkan sebisa mungkin. Karena itu control teratur dan mengikuti saran dokter sangat diharapkan. Jiwa yang sehat dan tetap semangat, data menjadi factor penentu keberhasilan terapi. Dari dalam diri pasien sendiri juga harus timbul motivasi untuk mengikuti setiap saran dokter, meskipun tampaknya berat, seperti berhenti merokok dan mengatur pola makan.
  5. Dukugan keluarga, kerabat, dan semua sahabat kepada pasien. Harapan yang berlebihan dapat membuat keluarga terlalu mengekang atau terlalu memaksa, meskipun bertujuan baik. Harus diingat semua ditentukan motivasi dari dalam diri sendiri. Dalam hal ini, kualitas hidup lebih penting daripada memperpanjang usia. Harapan yang terlalu berlebihan baik dari pasien maupun keluarga justru dapat berakibat kontra produktif karena akan menurunkan kualitas hidup pasien sendiri. Dukungan yang bisa diberikan antara lain meningkatkan komunikasi untuk lebih mengerti perasaan pasein, mempererat kerukunan keluarga dengan silatuhrahmi, menciptakan suasana keluarga yang nyaman dan ceria dengan memberikan humor atau music , dsb. Semua bertindakan dengan bijaksana demi kepentingan orang yang disayangi.

Ditulis Oleh:

Dr. Julius Aliwanga, Sp.KFR. Tim Dokte Spesialis Rehabilitasi Medic Eka Hospital BSD
Dr. Luky Thiehunan, Sp.Kj. Tim Dokter Spesialis Kesehatan Jiwa Eka Hospital Pekanbaru

Eka Hospital http://www.ekahospital.com/

Published in Sehati
Monday, 10 October 2016 00:00

Rehabilitasi Pasca Stroke Part 1

Sebagian besar pasien stroke harus menjalani rehabilitasi medic segera setelah melewati masa emergensi, sebelum masuk ke ruang perawatan. Mengapa demikian? Karena saraf tidak mudah penyembuhannya, meski tubuh memikili kemampuan untuk sembuh sendiri.

Rehabilitasi medic sangat di perlukan untuk mempertahankan lingkup gerak sendi, karna biasanya pasien stroke akan mengalami gangguan motoric, sehingga dalam waktu seminggu saja pasien akan menjadi tidak lentur seperti semula, karena gerak sendinya kurang. “Tujuan rehabilitasi medic pasca-stroke adalah mengembalikan kondisi dan kemampuan pasien sampai seoptimal mungkin". Jika rehabilitasi medic tidak dijalankan secara teratur, kemungkinan terburuk yang dapat terjadi adalah pasien mengalami kondisi tubuh yang buruk dan tidak terawat.

Pasien tidak mampu untuk buang air pada tempatya sehingga dapat terjadi spontan di tempat tidur, terdapat banyak luka di badan, atau postur badan meringkuk seperti bayi serta mengalami kontraktur dan kaku. Biasanya pasien juga mengalami gangguan bicara. Jika kondisi ini di biarkan dan pasien tidak menjalani rehabilitasi medic, maka lama-kelamaan pasien mengalami kekurangan gizi, karena tidak dapat bicara untuk meminta minum atau makan. Pasien akan minum atau makan jika orang yang merawatnya ingat. Keadaan seperti itu tentu akan memperparah kondisi kesehatan pasien.

Rehabilitasi medic pasca-serangan stroke harus dijalankan dengan konsisten dan tekun. Lamanya rehabiltasi medic sangat ditentukan oleh upaya serta konsistensi pasien dan keluarga dalam menjalankannya. Terlebih jika pasien stroke mengalami komplikasi penyakit. Bila kondisi paisen sudah stabil, tekanan darah telah terkontrol, tidak ada komplikasi penyakit, tidak ada radang paru-paru, maka pasien boleh pulang dan rehabilitasi dapat dilakukan dirumah. Tentunya rehabilitasi dapat dilakukan secara konsisten pada saat pasien sudah diperbolehkan pulang. Tujuannya adalah untuk membantu mengembailkan kelenturan sisa-sisa otot yang masih kaku (spastisitas), sehingga pasien dapat kembali beraktifitas secara normal.

Setelah di perbolehkan pulang, pasien stroke tetap harus menjalani rehabilitasi mediks di rumah sakit. Awalnya mungkin tiga kali seminggu, kemudian berkurang hingga seminggu sekali, dan lama-lama dapat dilakukan sendiri di rumah. Meski demikian, perlu di ingat bahwa tidak semua pasien stroke dapat smbuh seperti semula meskipun sudah menjalani rehabilitasi medik secara teratur. Penyebab atau jenis stroke yang diderita, beratnya kerusakan yang terjadi, motivasi dari diri sendiri, dan dukungan dari lingkungan, berkontribusi besar dalam pemulihan pasien pasca-stroke.

Ditulis Oleh:

Dr. Julius Aliwanga, Sp.KFR. Tim Dokte Spesialis Rehabilitasi Medic Eka Hospital BSD
Dr. Luky Thiehunan, Sp.Kj. Tim Dokter Spesialis Kesehatan Jiwa Eka Hospital Pekanbaru

Eka Hospital http://www.ekahospital.com/

Published in Sehati
Wednesday, 28 September 2016 00:00

Mengenal Obesita pada Anak part 2

Risiko Obesitas

Banyak sekali risiko gangguan kesehatan yang dapat terjadi pada anak atau remaja yang mengalami obesitas. Anak dengan obesitas dapat mengalami masalah dengan sistem jantung dan pembuluh darah (kardiovaskuler) yaitu hipertensi dan dislipidemia (kelainan pada kolesterol).

Si anak bisa juga mengalami gangguan fungsi hati dimana terjadi peningkatan SGOT dan SGPT serta hati yang membesar. Bisa juga terbentuk batu empedu dan penyakit kencing manis (diabetes mellitus). Pada sistem pernapasan dapat terjadi gangguan fungsi paru, mengorok saat tidur, dan sering mengalami tersumbatnya jalan nafas (obstructive sleep apnea). Hal tersebut akan membuat si anak kurang konsentrasi dalam menangkap pelajarannya karena mengantuk dan nantinya dikhawatirkan bisa mempengaruhi prestasinya di sekolah.

Obesitas juga bisa mempengaruhi kesehatan kulit dimana dapat terjadi striae atau garis-garis putih terutama di daerah perut (white/purple stripes ). Selain itu, gangguan psikologis juga dapat terjadi pada anak dengan obesitas. Badan yang terlalu gemuk sering membuat si anak sering diejek oleh teman-temannya. Sehingga memiliki dampak yang kurang baik pada perkembangan psikologis anak.

Mengatasi Obesitas

Obesitas dapat dicegah. Anak harus memiliki pola makan sehat, khususnya untuk anak-anak yang memiliki risiko obesitas. Jangan memberi anak makanan yang tinggi kalori, makanan berlemak harus dibatasi, begitu juga dengan makanan yang manis. Sementara itu makanan yang mengandung serat harus ditingkatkan. Pada anak dengan obesitas asupan kalori harus dikurangi 200-500 kilokalori per hari dari biasanya. Komposisi diet yang baik yaitu 50% karbohidrat, 30% lemak, dan 20% protein.

“Jangan terlalu sering makan junk food, karena kandungan lemaknya tinggi,” Kalau anak sudah berusia 2 tahun lebih dan sudah terlihat memiliki risiko gemuk, mereka sudah boleh diberi susu skim. Satu hal yang penting, jangan biasakan juga memberi iming-iming atau hadiah berupa makanan, karena akan membentuk pola pikir anak bahwa makanan adalah hal yang harus diidam-idamkan. Hal penting lainnya yaitu orangtua juga harus mengajak anak melakukan aktivitas fisik, seperti olahraga bersama setiap akhir pekan.

Pada anak dengan obesitas, pemberian obat-obatan sampai saat ini belum dianjurkan. Tetapi untuk kasus yang jarang sekitar 5% kelainan medis kasus obesitas bisa dilakukan operasi untuk mengurangi penyerapan kalori dan nutrisi yang dikenal dengan operasi jejunoileal by pass.
Jadi mulai sekarang, ubahlah pola pikir Anda yang berorientasi pada gemuk itu sehat. Lebih baik memiliki berat badan ideal daripada gemuk menggemaskan tetapi ternyata merupakan sumber penyakit bagi anak kita tercinta. Mengingat penanganan anak dengan obesitas tidaklah mudah, maka sebaiknya lakukanlah langkah antisipasi supaya tidak terjadi obesitas pada anak Anda!

Ditulis Oleh:

dr. Pingkan Pililingan, SpA. EKA HOSPITAL BSD

Eka Hospital http://www.ekahospital.com/

Published in Sehati
Wednesday, 28 September 2016 00:00

Mengenal Obesitas pada Anak

Apakah Anak Anda Obesitas?

Pipi si kecil yang tembam dan perutnya yang bulat memang menggemaskan. Tapi sehatkan ia? Jangan sampai si kecil malah menjadi obesitas, karena pandangan gemuk itu sehat tidak selalu benar.

Orangtua mana yang tidak bangga memiliki anak yang menggemaskan, dengan pipi bulat seperti tomat dan tubuh yang montok. Apalagi, karena dalam masa pertumbuhan, si anak diberikan asupan nutrisi sebanyak-banyaknya agar tumbuh sehat. Tidak sedikit juga orangtua yang menganggap anak gemuk berarti sehat.

Para orangtua sebaiknya jangan beranggapan bahwa anak gemuk itu sudah pasti sehat, lantas menjadi terobsesi untuk memiliki anak yang gemuk. Tahukah Anda bahwa setiap anak memiliki risiko obesitas? Anak yang sejak bayinya sudah gemuk berisiko mengalami obesitas kelak cukup tinggi. Apabila kedua orangtuanya bertubuh gemuk, si anak memiliki kemungkinan 80% menjadi gemuk. Sementara itu apabila hanya salah satu dari orangtuanya yang gemuk, anak tetap memiliki 40% kemungkinan gemuk. Akan tetapi jangan mengira bila kedua orangtua tidak gemuk maka anak pasti akan memiliki berat badan ideal. Hal tersebut terjadi karena adanya faktor-faktor lain di luar genetik yang menjadi penyebab obesitas pada anak.

Faktor utama terjadinya obesitas pada anak memang adalah faktor genetik. Sedangkan faktor di luar faktor genetik yang dapat menyebabkannya antara lain adalah metabolisme tubuh yang rendah, kurangnya aktivitas fisik, hingga pola makan yang tidak seimbang. Jadi, coba sekarang ingat-ingat kembali, apakah pola makan si kecil sudah benar, apakah aktivitas fisiknya cukup, dan apakah berat badannya ideal?

Ciri anak obesitas

Menurut dr. Pingkan Palilingan, SpA, obesitas pada anak bisa terjadi di usia berapapun. Bahkan bisa dimulai sejak dalam kandungan. “Obesitas pada anak sebenarnya merupakan suatu masalah gizi yang ditandai dengan kegemukan,” jelasnya. Masing-masing anak memiliki berat badan yang ideal sesuai dengan tinggi badan dan usia anak tersebut.

Bagaimana cara mengetahui bahwa anak kita mengalami obesitas atau masih dalam kondisi berat badan normal? Cara yang paling mudah adalah dengan melihat ciri fisiknya. Anak obesitas mempunyai ciri-ciri fisik seperti; memiliki pipi yang tembam, dagu berlipat, leher yang pendek, perut buncit, tinggi tidak sesuai dengan usia dan biasanya pada anak laki-laki kerap terjadi pembesaran payudara (Gynecomastia). Pada anak perempuan yang mengalami obesitas dapat terjadi haid pertama yang timbul lebih cepat atau dikenal dengan istilah early menarch. Sedangkan pada anak laki-laki mempunyai kecenderungan memiliki alat kelamin yang kecil, sehingga tidak sedikit orangtua membawa anak laki-lakinya ke dokter anak dan mengeluhkan hal tersebut. Dalam hal ini, alat kelamin terlihat kecil karena jaringan lemak di daerah tersebut menebal, sehingga penisnya terbenam (burried penis).

Untuk memastikannya lagi, kata dr. Pinkan, kita ukur tinggi dan berat badannya. Cara mengukurnya, berat badan sekarang dibagi dengan berat badan yang ideal sesuai dengan tinggi badan anak tersebut. Bila angka tersebut lebih dari atau sama dengan 120%, maka sudah masuk kategori obesitas. Cara lain untuk memastikan apakah sang buah hati obesitas atau tidak yaitu dengan melakukan penghitungan Index Massa Tubuh (IMT) atau Body Mass Index (BMI). Bila BMI lebih atau sama dengan 95% sudah dikatakan obesitas. Orangtua kerap mengalami kesulitan untuk melakukan penghitungan tersebut, maka sebaiknya langsung datang ke dokter anak untuk mengetahui secara pasti apakah anak Anda mengalami obesitas atau tidak.

Namun, bagi Anda yang masih memberikan ASI pada bayi, jangan terlalu khawatir akan terjadinya obesitas pada anak kelak. Karena pemberian ASI yang baik sesuai dengan kebutuhan si kecil (on demand). “Yang dikhawatirkan adalah kegemukan karena minum susu formula, itu yang tidak boleh,”.

Ditulis Oleh:

dr. Pingkan Pililingan, SpA. EKA HOSPITAL BSD

Eka Hospital http://www.ekahospital.com/

Published in Sehati
Sunday, 28 August 2016 00:00

Hypertension the silent disease

Hipertensi biasa disebut sebagai penyakit gaya hidup. Dengan demikian, risiko penyakit ini lebih tinggi pada mereka yang memiliki gaya hidup tidak sehat. Hipertensi sering kali datang diam-diam tanpa menimbulkan keluhan apapun dan tidak memiliki gejala sampai timbul komplikasi.
Karena tidak menimbulkan gejala, rata-rata penderita memang tidak mengetahui dirinya mengidap hipertensi sebelum memeriksakan tekanan darahnya. Padahal deteksi dini diperlukan untuk mencegah komplikasi lebih lanjut. Sayangnya, banyak masyarakat yang masih enggan memeriksakan kesehatan terkait hpertensi. Sebagian besar merasa tidak perlu ke dokter kerna badannya dirasa baik-baik saja.

Salah satu faktor penyebab hipertansi adalah genetic (keturunan). Akan tetapi, factor genetic hanya akan munsul jika ada factor pemicu dari lingkungan seperti kegemukan, merokok, konsumsi garam tinggi, vetsin (msg), alcohol, stress, atau kurang olahraga. Itulah mengapa terkadang hipertensi disebut juga penyakit gaya hidup, yang tingkat risikonya lebih tinggi pada mereka yang tidak menerapkan gaya hidup.
Sebagian besar pasien dengan hipertensi tidak mengeluhkan gejala atau menunjukan tanda klinis tertentu yang berkaitan denga peningkatan tekanan darah. Namun, pada pasien dengan hipertensi yang berat, nyeri kepala sering dikeluhkan. Nyeri kepala yang khas, yaitu pada bagian belakang atas, sering dirasakan pada pagi hari oleh penderita hipertensi. Beberapa gejala lain yang mungkin dikeluhkan namun tidak spesifik untuk hipertensi adalah pusing, berdebar-debar, mudah lelah, dan impotensi.

Mengenal Hipertansi

Menurut Joint National Committee On Prevention Detection, Evaluation, and Treatment of High Blood Pressure (JNC7), Suatu komisi yang terdiri dari pakar-pakar hipertensi di Amerika Serikat, seseorang dikatakan menderita hipertensi apabila tekanan darah ≥ 140/90 mmHg. Disarankan, pemeriksaan tekanan darah dilakukan dua kali dengan waktu yang berbeda. Berdasarkan hasil kedua pemeriksaan tersebut, ditentukan rata-rata teakanan darah pasien dan dari situ dapat disimpulkan apakah pasien termasuk hipertensi atau tidak. Hipertensi dapat digolongkan menjadi dua jenis, yaitu hipertensi primer atau esensial dan hipertensi sekunder. Hipertensi primer atau esensial adalah hipertensi di mana tidak ada hal spesifik yang menjadi penyebabnya. Sekitar 90-95% hipertensi adalah jenis ini. Hipertensi sekunder, yaitu hipertensi yang disebabkan oleh kelainan atau penyakit lain, atau sleep apnea (sesak napas saat tidur).

Sebagian besar pasien hipertensi (92-94%) mengalami hipertensi esensial yang penyebabnya sulit ditentukan. Hipertensi esensial melibatkan berbagai system organ yang berperan dalam regulasi tekanan darah arteri. Pada orang dewasa, hipertensi esensial dipengaruhi oleh mekanisme system saraf, mekanisme ginjal, mekanisme pembuluh darah dan mekanisme hormone. Namun, pada sebagian kecil pasien yang mengalami hipertensi sekunder, penyebab hipertensi dapat diketahui dengan melakukan pemeriksaan diagnostic tambahan lainnya. Penyebab hipertensi sekunder yang dapat diidentifikasi adalah hipertensi yang disebabkan penyakit ginjal, hipertensi akibat kelainan endokrin dan hipertensi karena sebab lain. Seiring dengan pertambahan usia, risiko hipertensi juga turut meningkat. Namun, hal ini tidak berlaku untuk hipertensi sekunder yang disebabkan oleh penyakit tertentu. Selain itu, perlu duketahui pula bahwa umur bukan merupakan satu-satunya factor risiko hipertensi. Kejadian hipertensi lebih merupakan interaksi antara berbagai factor dalam diri individu yang memunginkan perubahan yang mendukung hal tersebut.

Hipertensi dan jantung coroner

Studi-studi manununjukan bahwa risiko kematian akibat penyakit jantung koroner dan stroke meningkat seiring peningkatan tekanan darah. Selain itu, penyakit jantung coroner merupakan penyebab kematian paling sering akibat hipertensi. Pada berbagai level tekanan darah, risiko absolut kematian akibat penyakit jantung coroner melebihi risiko kematian akibat stroke. Hipertensi merupakan salah satu factor risiko utama penyakit jantung coroner, kejadian stroke, gagal ginjal kronik dan gagal jantung kongesif. Oleh karena itu, tujuan dari menurunkan tekanan darah, melainkan juga untuk menurunkan kerukasan organ-organ lain yang diakibatkan oleh hipertensi. Hipertensi menyebabkan kerusakan pembuluh darah arteri secara perlahan. Akibat dari tekanan tinggi yang terus-menerus, dinding arteri akan terluka dan mengeras, sehingga terjadi peyempitan pembuluh darah di tubuh, termasuk pembuluh darah coroner. Selain itu tekanan darah yang tinggi akan menambah beban kerja jantung. 

Hipertensi Merupakan Salah Satu Faktor Risiko Utama Peyakit Jantung Koroner, Kejadian Stroke, Gagal Ginjal Kronik, dan Gagal jantung Kengesif. Berbagai macam factor dapat menyebabkan penyempitan pembuluh darah atau tyang dikenal sebagai aterosklerosis, dan merupakan factor risiko penyakit jantung coroner. Factor risiko penyakit jantung coroner yang dapat dikendalikan di antaranya adalah merokok, hipertensi, hiperkolesterolemia, kencing manis, kegemukan, kurang bergerakatau kurang olahraga, dan stress. Sedangkan factor risiko yang tidap dapat dikendalikan di antaranya adalah usia, laki-laki, rempuan menopause dan riayat keluarga.

Jauhi hipertensi dan risiko penyakit jantung coroner dengan menerapkan pola hidup sehat, yaitu berhenti merokok, berolahraga secara teratur, mengasup nutrisi yang seimbang, menjauhi stress, beristirahat teratur dan melakukan deteksi kesehatan melalui medical chek up rutin untuk menekan risiko sedini mungkin. Waspadalah terhadap hipertensi, karena ia bagaikan pencuri di tengah malam, diam-diam merusak tubuh bila hgaya hidup sehat mulai dilupakan. Dan yang tak kalah penting adalah, segera lakukan konsultasi dan pemeriksaan pada dokter jika anda meraksan gangguan ataupun gejala hipertesni seperti tersebut di atas!

Ditulis Oleh:

TIM Dokter Spesialis Jantung & Pembuluh Darah, EKA HOSPITAL BSD
TIM Dokter Spesialis Penyakit Dalam, EKA HOSPITAL BSD

Eka Hospital http://www.ekahospital.com/

Published in Sehati
Monday, 25 July 2016 00:00

Kenali Gejala Osteoarthtritis part 1

Kenali Gejala Osteoarthtritis
Mitos mengatakan bahwa penyakit rematik dan osteoarthtritis yag menyerang sendi dan struktur-struktur disekitarnya, akan menyambangi para lansia. Benarkah mitos tersebut? Mari kita ketahui jawabannya bersama.

Diketahui Penyebab Rematik
Pada dasarnya , penyakit rematik dapat dibedakan berdasarkan penyebabnya, yang pertama karena proses peradangan dan kedua karena proses degenerasi (penuaan). Pada usia muda, sendi yang normal mempunyai permukaan halus dan mengkilap. Namun proses penuaan atau degenerasi, yang dimulai pada usia dewasa awal dan berlanjut perlahan sepanjang usia, akan menyebabkan permukaan sendi berubah menjadi berbulir-bulir dan kasar.

Secara teori, sendi-sendi yang tersusun oleh tulang rawan, sebenarnya hampir seluruhnya dapat bertahan seumur hidup. Sayangnya, tulangrawan yang terdapat pada sendi hanya mempunyai kemampuan yang sangat terbatas untuk regenerai, sehingga proses degenerasi yang terjadi cenderung bersifat irreversible (tidak dapat kembali) dan progreif (memburuk). Apa yang terjadi pada proses degenerasi ini dapat dijelaskan oleh ilmu biokimia kedokteran. Disini dijelaskan bahwa proteoglycan, yang merupakan komponen dasar tulang rawan yang ada pada sendi, secara bertahap akan hilang sehingga collagen yang merupakan komponen lain dalam tulang rawan akan kehilangan pendukungnya dan selanjutnya tulang rawan tersebut akan tergerus. Seiring bertambahnya usia, fungsi sebagai penyerap goncangan dan sebagai permukaan yang dilumas pada sendi menjadi tidak efektif lagi.

Osteoarthtritis
Perubahan degenerasi sendi terjadi pada semua orang dewasa, walaupun dengan derajat yang berbeda-beda. Namun, perubahan degenerasi yang menonjol pada sebagian besar orang, sehingga perubahan degenerasi ini dapat dianggap sebagai variasi normal, seperti halnya rematik, akan tetapi jika perubahan degenerasi pada suatu sendi terjadi sebelum waktunya atau terjadi secara signifikan dan menyebabkan rasa nyeri, maka keadaan ini tidak dianggap sebagai variasi normal lagi, namun disebut sebagai osteoarthtritis, atau penyakit sendi degenerative ( degenerative joint disease). Kebanyakan orang yang merasakan osteoarthtritis sebagai gejala ringan yang hanya menimbulkan perasaan tidak nyaman pada sendi, atau sering menganggap karena ‘sudah tua’. Pada beberapa orang, proses degenerasi nyeri dan kadang sampai menimbulkan komplikasi, sehingga membutuhkan terapi.

Osteoarthtritis adalah penyakit local pada sendi, dan tidak mempunyai efek pada anggota tubuh yang lain. Penyakit ini umumnya paling sering terjadi pada sendi yang bertugas membawa beban berat tubuh, seperti pada sendi panggul dan lutut, juga pada sendi tulang belakang bagian bawah. Diperkirakan sekitar 25% perempuan dan 15% laki-laki beruia 60 tahun akan mengalami gejala osteoatrhtritis, dan pada usia di atas 75 tahun, lebih dari 80% laki-laki dan perempuan akan mengalaminya.

Penyebab osteoatrhtritis
Bedasarkan penyebabnya, osteoarthtritis dapat dibedakan menjadi dua, yaitu primer dan sekunder. Osteoarthritis primer lebih sering terjadi pada perempuan dewasa di usia pertengahan, sedangkan yang sekunder lebih sering terjadi pada laki-laki dewasa sehubungan dengan riwayat trauma atau cedera yang lebih sering dialami olh kelompok populasi ini.

Pada osteoarthtritis primer, proses penuaan normal pada tulang rawan sendi terjadi sebelum waktunya disebabkan faktor genetik atau faktor lain yang sampai sekarang belum diketahui (idiopatik). Degenerasi yang sudah terjadi pada suatu sendi karena osteoarthritis primer, khususnya pada sendi lutut, dapat dipercepat atau diperburuk oleh kesalahan penggunaan sendi secara terus-menerus dan karena obesitas.

Sementara itu, osteoarthritis sekunder terjadi sering dibandingkan osteoarthtritis primer. Pada osteoarthtritis sekunder, terjadi perubahan awal pada tulang rawan sendi, yang nantinya akan berkembang menjadi osteoarthtritis. Perubahan awal ini dapat diakibatkan oleh cedera, deformitas tulang, dan penyakit-penyakit tertentu.

Ditulis Oleh:

Dr. Widyastuti S.U, Sp.Ot
TIM DOKTER SPESIALIS ORTHOPAEDI, EKA HOSPITAL BSD
Eka Hospital http://www.ekahospital.com/

Published in Sehati
Monday, 25 July 2016 00:00

Asma Pada Anak

Apa penyebab dan bagaimana mencegahnya?
Penyakit asma merupakan penyakit kronis dijumpai pada anak. Penyakit ini lebih sering terjadi pada anak laki-laki dibandingkan anak perempuan. Pada orang dewasa gejala asma sangat khas, sebaliknya pada anak penyakit tersebut kadang sulit ditentukan, karena kemiripannya dengan penyakit saluran napas lainnya. Mari kita kenali asma lebih dalam lagi agar penanganannya dapat dilakukan secara optimal, demi kenyaman si kecil.

Apa yang dimaksud dengan asma?
Asma adalah suatu kondisi yang kronis dimana terjadi penyempitan dan pembengkakan saluran nafas, disertai produksi lender yang berlebihan dari saluran napas tersebut. Kondisi ini menyebabkan anak sulit bernapas, timbul gejala batuk, serta napas yang sesak dan berbunyi seperti siulan (mengi). Asma biasanya timbul karena adanya pencetus yang spesifik. Bentuk serangan asma pada sebagian anak dapat berupa serangan berat hingga menimbulkan ancaman henti nafas.

Apakah bayi dan balita dapat terkena penyakit asma? Anak usia berapa yang rentan mengalami asma?
Asma dapat menyerang tanpa memandang usia, bahkan usia balita sekalipun. Akan tetapi umumnya anak dengan usia sekolah (6tahun) adalah usia yang mulai sering ditemukan terserang asma. Pada anak-anak usia 3 tahun pertama, perlu diperhatikan adanya gejala mengi pada infeksi saluran nafas yang menyerupai asma. Namun mengi akibat infeksi virus saluran pernafasan yang berulang pada anak di usia 3 yahun pertama, dengan disertai eksim/ruam (dermatitis atopi) dan riwayat asma dalam keluarga, dapat memiliki risiko mengalami asma di kemudian hari.

Apakah penyakit asma bersifat genetik?
Ya, asma merupakan penyakit akibat kelainan genetik. Risiko terjadinya asma semakin tinggi bila ada riwayat anggota keluarga, baik orangtua atau saudara kandung dengan asma. Serangan asma tidak hanya berdiri tunggal. Maksudnya adalah, serangan dapat terjadi bila ada infeksi yang komplesk antara faktor genetik dan faktor lingkungan sebagai pencetus.

Bagaimana cara mencegah terjadinya serangan asma pada anak?
Agar anak dapat terhindar dari serangan asma, dapat dilakukan pencegahan dengan menghindari factor-faktor pencetus, seperti: kondisi lingkungan (udara dingin, polusi, hujan) infeksi saluran nafas atas, exercise (olah raga yang dapat memicu asma), serta allergen dan iritan seperti tungau debu rumah, serbuk sari, kecoa, bulu kucing dan anjing, jamur, parfum dan asap rokok.
Pemberian obat-obatan setiap hari oleh dokter sebagai penanganan jangka panjang juga dapat mencegah serangan asma, khususnya pada anak penderita asma yang sering kambuh atau asma persisten.

Bagaimana penyakit asma dapat diketahui sedini mungkin pada anak?
Penyakit asma pada anak dapat diketahui dari gejala-gejala yang timbul, yaitu batuk, mengi, sesak nafas, yang sering terjadi karena ada faktor-faktor pencetus, diantaranya adanya riwayat atopi (alergi atau asma dalam keluarga), gender (laki-laki lebih sering daripada perempuan), obesitas, infeksi saluran nafas, asap rokok dan terpapar dengan allergen.
Pemeriksaan dengan alat spirometer dan/atau peak flow meter untuk menguji fungsi paru dapat dilakukan hanya pada anak mulai usia 6 tahun ke atas. Sementara pada anak di bawah 6 tahun, biasanya pengujian dapat dilakukan dengan pemberian obat-obatan pada anak yang dicurigai asma untuk memastikan diagnosis.

Apa tindakan pertama yang harus dilakukan pada anak dengan serangan asma?
Pertolongan pertama yang terbaik adalah segera bawa ke rumah sakit terdekat, karena sesak nafas akibat penyempitan saluran nafas harus diatasi secepat mungkin. Pemberian oksigen dan terapi inhalasi menggunakan obat-obatan yang berfungsi melebarkan saluran nafas akan dilakuan oleh dokter. Pada kasus asma serangan barat seringkali diperlukan perawatan rumah sakit.
Sementara itu, pada kasus asma dengan serangan ringan dan keluarga telah terlaitih, tindakan di rumah untuk pertolongan pertama dapat dilakukan bila tersedia obat inhalasi dengan metode inhalasi dosis terukur atau terapi inhalasi dengan menggunakan alat nebulizer. Bila belum teratasi segera ke rumah sakit terdekat. Setelah sesak teratasi, dianjurkan kontrol ke dokter anak untuk penangan asma jangka panjang bila diperlukan.

Asma terkendali adalah asma yang tidak bergejala dengan/atau tanpa obat pengendali dan kualitas hisup pasien baik

Bagaimana anak dengan asma dapat disembuhkan, dan apakah asma dapat kambuh kembali?
Anak dengan asma tidak dapat sembuh total. Selain itu asma merupakan penyakit kronis sehingga sangat mungkin dapat kambuh, terutama bila tidak disiplin menghindari faktor-faktor pencetus atau mengurangi faktor risiko. Oleh karena itu tujuan dari penanganan asma yang benar adalah bukan sembuh, tetapi terkendalinya penyakit. Asma terkendali adalah asma yang tidak bergejala dengan/atau tanpa obat pengendali dan kualitas hidup pasien baik.

Ditulis Oleh:

Dr. Pingkan Palilingan, Sp.A.
TIM DOKTER SPESIALIS ANAK, EKA HOSPITAL BSD

Eka Hospital http://www.ekahospital.com/

 

Published in Sehati
Wednesday, 11 May 2016 00:00

Stroke Akut

Manajemen stroke tak cukup hanya dari satu sisi saja. Pasien memerlukan pendekatan yang komprehensif, sistematis dan terpadu. Seseorang yang terkena stroke akan menghadapi tiga pilihan risiko, yakni kematian, sembuh total dan cacat permanen. Persentase mereka mereka yang meningggal akibat stroke mencapai 20%, sedangkan yang total sembuh hanya mencapai 15-20%. Sementara itu, sebagian besar pasien yang bertahan mengalami cacat permanen.

Saat stroke datang, pasien tak bisa menawar. Ketika hal itu terjadi, makan mereka hanya memiliki periode jendela (the window) tiga hingga enam jam. Lewat dari periode tersebut, penanganan yang diberikan tak mampu memberikan hasil yang optimal. Sementara itu, pasien yang berhasil ditangani tepat waktu memiliki peluang pulih optimal hingga 50%. Jika dalam 4,5 jam pertama sudah dapat ditegakkan diagnosis stroke, terpenuhi kriteria inklusi dan ekslusi, peluang untuk mencapai pemulihan optimal dapat dicapai sebanyak 50%.

Manajemen penanganan pasien stroke terbagi dua bagian, yakni pre-hospital dan in-hospital. Pre-hospital terkait degan penanganan pasien saat terserang stroke, sebelum ia ditangani secara medis. Seringkali masyarakat awam mengabaikan gejala-gejala yang dialami pasien stroke karena kurangnya pengetahuan. Kalau pun dikenali sejak dini, pasien terlambat datang ke rumah sakit karena macet diperjalanan. In-hospital terkait dengan penanganan pasien di rumah sakit. Beberapa rumah sakit memberikan penangnan yang tak tepat kepada administrasi terlebih dahulu, padahal ia harus mendapat tindakan segera karena kerusakan otak dapat terjadi dlaam waktu cepat.

Manajemen stroke Akut

Tujuan dari manajemen stroke akut secara umum adalah menurunkan morbilitas dan tingkat kematian, serta angka kecacatan untuk mencapai tujuan tersebut adalah penangan stroke secara dini, dimulai dari penanganan pre-hospital yang cepat dan tepat.
Keberhasilan penanganan stroke akut dimulai dar pengetahuan masyarakat dan petugas kesehatan, bahwa stroke merupakan keadaan gawat darurat: seperti serangan jantung atau trauma. Filosofi yang harus dipegang adalah Time Is Brain dan The Goden Hour. Dengan adanya kesamaan pemahaman bahwa stroke dan TIA (Transient Ischemic Attack) merupakan suatu kondisi gawat darurat medis (Medical Emergency), maka akan berperan sekali dalam menyelamatkan dan mencegah kecacatan jangka panjang.

Untuk mencapai itu, pendidikan dan penyuluhan perlu diupayakan terhadap masyarakat, petugas kesehatan, petugas ambulans, dan terutama para dokter yang berada di ujung tombak pelayanan kesehatan seperti di puskesmas, unit gawat darurat atau tenaga medis yang bekerja di berbagai fasilitas kesehtaan lainnya. Dengan penanganan yang benar pada jam-jam pertama, angka kecacatan stroke paling tidak akan berkurang sebesar 30%.

Penanganan Stroke pre-hospital DETEKSI

Pengenalan cepat dan reaksi terhadap tanda-tanda stroke dan TIA. Umumnya (95%) keluhan pertama pasien dimulai sejak di luar rumah sakit. Oleh kerena itu pengetahuan dan tentang gejala stroke akut dan penanganan pertama yang cepat dan benar penting untuk diketahui dan dipahami oleh masyarakat luas (termasuk pasien dan orang terdekat dengan pasien).

Dan petugs kesehatan professional (dokter umum, reseptionis RS, perawat penerima telepon atau petugas gawat darurat), tenaga medis atau doker yang terlibat di unit gawat darurat atau pada fasilitas pre-hospital. Konsep ‘Time is Brain’ berarti pengobatan stroke merupakan keadaan gawat darurat . Jadi keterlambatan pertolongan pada fase pre-hospital harus dihindari dengan pengenalan keluhan dan gejala stroke bagi pasien dan orang terdekat. Pada setiap kesempatan, pengetahuan mengenai keluhan stroke terutama pada kelompok risiko tinggi ( hipertensi, atrial fibrasi, kejadian vascular lain dan diabetes) perlu disebarluaskan. Keterlambatan manajemen stroke akut dapat terjadi pada beberapa tingkat. Pada tingkat populasi, hal ini dapat terjadi kaena ketidaktahuan keluhan stroke dan kontak pelayanan gawat darurat.

Beberapa gejala atau tanda yang mengarah kepada diagnosis troke antara lain kelemahan atau kelumpuhan sebelah anggota gerak/hemiparesis, kesemutan atau baal-baal sesisi tubuh, bicara pelo atau cadel/disartria, buta mendadak, penglihatan dobel/diplopia, pusing berputar/vertigo, kejang-kejang sampai penurunan kesadaran yang semuanya terjadi secara mendadak. Untuk memudahkan digunakan istilah FAST (Facial movement, Arm movement, Speech, Tima is critical).

PENGIRIMAN PASIEN

Bila sesorang dicuriagi terkena serangan stroke, maka segera panggil ambulans gawat darurat. Ambulans gawat darurat sangat berperan penting dalam pengiriman pasien ke fasilitas yang tepat untuk penanganan stroke. Semua tindakan dalam ambulans pasien hendaknya berpedoman pada protocol.

TRANSPORTASI/AMBULANS

Utamakan transportasi untuk pengiriman pasien ke rumah sakit yang dituju. Petugas ambulans gawat darurat harus mempunyai kompetensi dalam penilaian pasien stroke pre-hospital.

PILIH FASILITAS PELAYANAN STROKE YANG KEOMPREHENSIF

Pilihlah fasilitas kesehatan yang mempunyai jaringan pelayanan kemprehensif tanggap darurat stroke, mulai dari unit gawat darurat, stroke unit atau ICU sebagai tempat tujuan penanganan definitif pasien stroke. Eka hospital memiliki Stroke Center, yaitu layanan terpadu tanggap darurat stroke, yang siap melayani pasien 24 jam 7 hari dengan fasilitas lengkap dan tenaga medis kompeten.

Panaganan Stroke In-hospital

Untuk memberikan pelayanan manajemen stroke secara komprehensif, sistematis dan terpadu, Eka Hospital menyediakan layanan stroke center untuk memastikam penanganan stroke berdasarkan standar/protocol manajemen sesuai bukti klinis terkini. Kompnonen utama dalam system manajemen stroke terpadu adalah Team Work Approach yang meliputi berbagai disiplin professional medis terkait, seperti dokter-dokter spesialis saraf, bedah saraf, neurointervensi, spesialis jantung dan pembuluh darah,rehabilitasi medik, gizi klinik, psikiater/psikologi, tim dokter UGD an Unit Stroke, serta perawat mahir stroke.

Program Stroke Center di Eka Hospital meliputi komponen majanemen stroke sebagai berikut:

  • Manajemen stroke akut di UGD unutk memastikan terapi rekanalisasi dengan pemberian obat thrombosis Rtpa (Recombinant Tissue Plasminogen Activator) dalam kurun waktu kurang dari 3 jam dari serangan gejala stroke infark atau tindakan medis lain yang sesuai dengan prosedur standar.
  • Perawatan stroke akut dalam unit perawatan khusu, yang mengintregasikan manajemen stroke akut, pencegahan kompikasi pasca stroke, pencegahan stroke ulang, dan neurorehabilitasinya di dalam suatu unit stroke (Stroke Unit).
  • Tindakan medis operatif dan kateterisasi pada otak/angiografi maupun untuk tinakan konekasi gangguan pembuluh darah otak seperti trombektomi mekanik atau pemasangan cincin/stent, atau tindakan bedah saraf untuk mengurangi tekanan dalam otak akibat perdarahan/infark otak luas.
  • Program perencanaan mengakhiri proses peratan pasien stroke akut di RS dan mempersiapkannya untuk melanjutkan proses perawatan di rumah, dikenal sebagai program Discharge Planning.
  • Program pendampingan pasien paske stokr, keluarga pasien pasca stroke dan individu sehat yang peduali terhadap pencegahan stroke dalam suuatu kelompok peduli stroke ( Stroke Awaeness Club)

Berhadapan dengan stroke, maka pilihan terbaik dan paling bijaksana adalah mencegahnya. Namun harapan terbaik bagi penderita stroke dapat diperolah melalui deteksi dini dan penanganan fase akut secara komprehensif, sistematik, dan terintergitasi dalam suatu system Manajemen Stroke Terpadu (Stokr Center) di Rumah Sakit, EkaHospital Stroke Center memberikan layanan lengkap mulai dari pencegahan melalui deteksi din, manajemen stroke akut, hingga perawatan paska stroke.

Ditulis oleh :

Dr. A. Andy Atmaja, Sp.s M.Kes
TIM DOKTER SPESIALIS SARAF EKA HOSPITAL
Eka Hospital http://www.ekahospital.com/

Published in Sehati
Wednesday, 11 May 2016 00:00

Demam Berdarah Dangue

Musim pancaroba, dimana terjadi peralihan dari musim kemarau menjadi musim hujan, merupakan saat-saat yang penting untuk diwaspadai karena pada saat inilah biasanya penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) banyak timbul. mengapa demikian? marilah kita temukan jawabannya melalui bincang-bincang bersama DR. Ifael. M,Sp.PD-KPTI, dokter spesialis penyakit dalam sekaligus konsultan penyakit tropik dan infeksi di Eka Hospital.

 Ada beberapa jenis Demam Berdarah dan apa bedanya?

Sebenarnya demam berdarah hanya ada satu jenis saja. Yang membedakan adalah tipe virus penyebabnya. Demam Berdarah Dengue disebakan oleh virus Dengue, yang terdiri atas Dengue virus 1, Dengue virus 2, Dengue virus 3, Dengue virus 4. Semua tipe virus sama berbahayanya jika tidak ditangani secara memadai.

Apakah Demam Berdarah Dengue (DBD)?

Demam Berdarah Dengue merupakan demam Dengue (DD) dengan kadar yang lebih berat karena pasien dapat mengalami syok dan perdarahan. Demam Dengue jarang sekali mengakibatkan kematian, sedangkan demam berdarah Dengue dapat berakibat fatal jika terlambat ditangani.

Bagaimana membedakannya dengan demam biasa?

Secara kasat mata, DBD dan demam biaa tidak dapat dibedakan. Diperlukan pegecekan secara klinis dan laboratorium untuk mengetahuinya secara pasti. Apabila seseoang mengalami demam tinggi dalam 2x 24jam, dan panas tubuhnya tidak turun walaupun diobati, maka orang tersebut harus mendapatkan pertolongan secara medis. Jangan biarkan tanpa pertolongan medis, karena masa kritis penyakit DBD adalah hari ketiga dan keempat, dimana pasien dapat mengalami syok yang dapat mengakibatkan kematian.
Panas tubuh pasien BD selalu berada di atas normal (minimal 38,5°C) lalu naik kembali ke 39°C dan seterusnya.

Jika seseorang dikatakan menderita penyakit ‘gejala DBD’, apakah itu semua sama artinya dengan menderita DBD?

Istilah penyakit ‘gejala DBD’ sebaliknya tidak digunakan karena dapat menimbulkan keraguan dan persepsi yang berbeda dari penyakit DBD yang sebenarnya. Penyakit DBD seharusnya sudah menjadi perhatian utama tenaga medis ketika pasien mengalami demam tinggi yang tidak kunjung membaik walaupun sudah mengkonsumsi obat penurun panas.
Apakah pasien DBD harus dirawat di rumah sakit?
Perawatan yang dibutuhkan oleh pasien DBD terutama adalah masuknya cairan sebagai pengganti cairan tubuh yang bocor keluar dari pembuluh darah, yang dirusak oleh virus Dengue. Sakit yang diderita pasien seringkali mempersulit proses makan dan minum yang sangat dibutuhkan untuk pemulihan kondisi tubuh. Pasien dianjurkan untuk dirawat di rumah sakit karena cairan makanan yang dibutuhkan dapat diberikan melalui infus, sehingga perawatan dan pengobatan dapat teratur dan terpantau dengan lebih baik. Selain itu, perawatan di rumah sakit juga sangat memudahkan pengecekkan darah pasien, yang harus dilakukan setiap hari di laboratorium.
Indikator pasien harus dirawat di rumah sakit adalah jika trombosit berada di bawah angka 100.000, karena semakin rendah trombosit, berarti semakin banyak cairan yang hilang dari tubuh pasen. Jadi rawat inap pada kasus DBD bertujuan untk mempercepat pemulihan pasien membantu keluarga dalam merawat, dan yang terpenting adalah menghindari terjadinya syok.

Apa saja gejala DBD?

Gejala DBD secara umum dengan gejala penyakit akibat virus lainnya, yaitu:

  • Demam tinggi, di atas 38,5°C
  • Sakit kepala
  • Pegal linu
  • Nyeri ulu hati, mual, muntah
  • Turunnya leukosit dan trombosit

Kapankah kondisi pasien DBD dikatakan kritis?

Perjalanan pernyakit DBD selama 7 hari, dimana masa kritisnya berada ada hari ke-3, ke-4 dan ke-5. Jika terjadi komplikasi penyakit lain, seperti tifus dan lain-lain, maka masa pemulihan akan menjadi lebih lama.

Mengapa DBD dapat menyebabkan kematian?

Sebenarnya pasien DBD tindak memerlukan pengobatan tertentu. Yang sangat penting bagi pasien: menjaga agar tubuh tidak kekurangan cairan, mengingat mekanisme penyakit DBD adalah rusaknya pembuluh darah oleh virus yang mengakibatkan tubuh kehilangan cairan secara cepat sehingga menyebabkan syok. Ciri-ciri penyakir DBD adalah: keluarnya keringat dingin, tekanan darah menurun, denyut nadi semakin cepat, hingga berujung kepada kematian.
Kondisi pasien harus benar-benar dijaga agar tidak kekuangan cairan. Penanganan utama yang harus dilakukan adalah mengganti cairan yang hilang tersebut sampai pembuluh darah yang rusak menjadi pulih kembali.

Apakah DBD dapat menular selain melalui nyamuk?

Penyakir DBD dapat dikatakan sangat bergantung terhadap lingkungan, terutama jika terdapat genangan air yang tenang dan jernih. Itulah sebabnya mengapa penyakit DBD banyak timbul di musim pancaroba, dimana hujan dan panas datang silih berganti. Genangan air yang terjadi dapat bertahan cukup lama bagi jentik-jentik nyamuk untuk berkembang menjadi nyamuk dewasa.
Virus DBD hanya dapat berkembang biak didalam tubuh nyamuk Aedes Aegypti. Walaupun berada di dalam darah, virus tersebut tidak dapat ditularkan melalui medium lain, termasuk antar-manusia.

Apa saja tips mencegah DBD?

Prinsip utama mencegah DBD adalah jangan sampai tubuh digigit oleh nyamuk. Untuk itu, kita harus mengetahui siklus kehidupan nyamuk penyebab DBD. Berbeda dari nyamuk malaria yang aktif mulai jam 7-8 pagi hingga jam 5 sore. Oleh karena itu, mereka yang aktif di luar ruang pada jam-jam tersebut harus waspada.
Gunakan kelambu atau kawat penelan nyamuk untuk menghindari masuknya nyamuk kedalam rumah. Kemudian, berantas nyamuk dewasa dengan fogging (pengaapan dengan obat khusus), serta membasmi jentik nyamuk dengan memperhatikan tempat di mana nyamuk dapat berkembang biak, seperti vas bunga, kolam dan wadah yang dapat menampung air, jika gejala DBD terlihat, segera bawa pasien ke rumah sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut oleh dokter dan mendapatkan pertolongan segera.

 

Ditulis oleh :

Dr. Ifael Y. Mauleti, SpPD-KPTI, FINASIM
TIM DOKTER SPESIALIS PENYAKIT DALAM EKA HOSPITAL BSD
Eka Hospital http://www.ekahospital.com/

Published in Sehati
Monday, 24 August 2015 00:00

Bahaya NAPZA Mengintai Anak

Hukuman mati belum memberikan efek jera bagi para pengedar narkotika di tanah air. Orangtua mau tidak mau harus siap dan waspada akan bahaya NAPZA yang mengintai anak-anak. Berikut beberapa informasi mengenai NAPZA yang penting diketahui orangtua.

Apa tanda-tanda anak yang mulai menggunakan obat-obat terlarang/psikotropika?
Obat terlarang, yang kini dikenal dengan istilah NAPZA (narkotika, psikotropika dan zat adiktif) merupakan zat yang menyebabkan gangguan kesehatan fisik, psikis, serta fungsi sosial, jika masuk ke dalam sistem tubuh manusia, serta dapat mengakibatkan ketagihan dan ketergantungan. Ciri-ciri ketergantungan NAPZA yang perlu diwaspadai antara lain:

  • Fisik: jalan sempoyongan, bicara cadel, nafsu makan tidak menentu, acuh tak acuh, mengantuk, tidak peduli terhadap kebersihan tubuh, gigi kropos, terdapat bekas suntikan pada lengan atau bagian tubuh lain, dan bila terjadi overdosis timbul gejala nafas sesak, denyut jantung dan nadi melambat, kulit dingin, nafas melambat/berhenti, serta dapat mengakibatkan kematian.
  • Psikis: agresif, paranoid, emosional, membangkang, serta lebih tertutup.
  • Perilaku/sosial: tidak dapat bertoleransi, enggan bergaul, melupakan tanggung jawab rutin, mulai berbohong, serta cepat kehabisan uang saku.

Jenis NAPZA apa saja yang umum beredar di kalangan anak/remaja, dan apa ciri-cirinya?

  • Narkotika: zat yang menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi/menghilangkan nyeri, dan menimbulkan ketergantungan. Contohnya adalah morfin, heroin, petidin, ganja, dll.
  • Psikotropika: zat stimulan yang bersifat psikoaktif melalui pengaruh selektif terhadap susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan aktivitas mental dan perilaku tertentu. Contohnya adalah ekstasi, amfetamin, dll.
  • Zat Adiktif: zat di luar narkotika dan psikotropika, namun juga bersifat psikoaktif. Contohnya adalah minuman berakohol, dan inhalasia (lem, thinner, nail remover, bensin, dll.).
  • Dirty Drugs: Campuran dari beberapa zat/obat sekaligus. Contohnya: Happy Five, dll.

Faktor apa saja yang dapat memicu penggunaan obat terlarang pada anak?

  • Faktor pribadi, antara lain: Ketidaktahuan, kurang pengendalian diri, emosi yang belum stabil, kurang penghargaan terhadap diri sendiri, kurang percaya diri, tertutup.
  • Faktor lingkungan keluarga dan sosial, antara lain:
  • broken home, orangtua yang otoriter, orangtua yang permisif, terpengaruh teman, masyarakat sekitar yang kurang peduli terhadap perkembangan NAPZA di lingkungan.
  • Faktor media, dimana paparan informasi sangat mempengaruhi masyarakat, termasuk anak.

PANTAU PERGAULAN ANAK
Anak adalah mahluk yang masih memerlukan bimbingan dan perlindungan orang tua. Jangan biarkan anak masuk ke dalam lingkungan pergaulan yang tidak baik dan kehilangan arah dalam meniti hidup mereka. Orangtua mengemban tanggung jawab penuh untuk membimbing anak-anak meniti hidup dan mempersiapkan masa depan mereka.

Bagaimana membekali anak, terutama anak yang berasal dari keluarga kurang harmonis/broken home?
Memberikan fondasi yang kuat berupa pendidikan agama dan moral secara konsisten sangat penting untuk membentengi anak. Orangtua juga hendaknya mengisi waktu luang bersama anak dengan memaksimalkan komunikasi meskipun orangtua berpisah.

Lingkungan yang seperti apa yang memiliki pengaruh kurang baik terhadap anak, terutama dalam hal pergaulan bebas?
Jaga anak untuk tidak masuk ke dalam lingkungan yang dapat memberikan pengaruh/contoh kurang baik, seperti pergaulan bebas, yang belum pantas bagi anak-anak, karena mereka belum dapat membentengi diri.

Apakah ada perilaku tertentu yang perlu diwaspadai oleh orangtua?
Orangtua sebaiknya harus selalu waspada, apapun  perubahan perilaku anak yang terjadi, terutama perilaku yang tidak sesuai dengan standar norma-norma serta etika. Contoh perilaku yang harus diwaspadai adalah suka berbohong, bolos sekolah, berkelahi, atau sering mengurung diri.

Bagaimana cara memilah ruang pergaulan anak, tanpa membuat anak merasa dikekang?
Sebaiknya orangtua berperan aktif memilih ruang pergaulan anak. Pilihlah ruang pergaulan yang positif, dimana terjalin kerjasama antar individu untuk menghasilkan hal-hal yang positif pula. Hal terpenting adalah komunikasi yang baik antara orangtua dan anak.

Dengan demikian orangtua dapat memberikan informasi mengenai hal-hal yang baik kepada anak, dan sebaliknya anak dapat mengekspresikan perasaannya tanpa merasa takut. Komunikasi yang baik juga dapat menjadi salah satu benteng yang mampu melindungi anak dari pengaruh lingkungan yang kurang baik.

Bagaimana cara memonitor perilaku anak, tanpa membuat mereka terintimidasi?
Orangtua sebaiknya mengawasi dan memonitor perilaku anak, namun tetap memberikan mereka kebebasan dalam koridor tertentu. Artinya, pergaulan mereka harus dibatasi dan didampingi, terutama bagi anak-anak di bawah umur. Pembatasan dan pendampingan tersebut termasuk akses internet, sosial media, juga lingkungan sosial yang dapat memberikan pengaruh negatif bagi anak.

Pada usia berapa sebaiknya pergaulan anak mulai diawasi?
Sejak anak sudah mulai belajar berinteraksi dengan lingkungan sosial pada usia 2 tahun keatas, orang tua harus mulai mengawasi pergaulannya. Mengapa? Karena pada saat usia tersebut anak bagaikan sponge dapat menyerap dengan mudah apa yang dilihat dan didengar dan membuat anak cenderung untuk meniru.

CARI BANTUAN PARA AHLI
Orang tua adalah manusia yang tidak luput dari kekurangan. Jangan sungkan dan segan mencari bantuan dari para ahli, psikolog, psikiater, maupun pemuka agama, jika orangtua mengalami kesulitan dalam menangangi masalah perilaku anak. Bantuan yang diberikan para ahli yang kompeten akan meringankan beban orang tua, sehingga diharapkan dapat memberikan solusi terbaik bagi permasalahan anak.

Ditulis oleh :

Dr. Guntara Hari, SpKJ – Tim dokter spesialis Kesehatan Jiwa
Siti Sa’diah Syam, M.Psi – Tim Psikologis Klinis
Eka Hospital http://www.ekahospital.com/

Published in Sehati
Page 1 of 2
logo-footer PT. Administrasi Medika


iso-admedika telkomedikalogo metralogo telkomlogo
Official Social Channels   Facebook   Twitter   Twitter   Twitter