Sehati - Sehat Indonesiaku

AdMedika Health Blog

Wednesday, 11 May 2016 00:00

Demam Berdarah Dangue

Musim pancaroba, dimana terjadi peralihan dari musim kemarau menjadi musim hujan, merupakan saat-saat yang penting untuk diwaspadai karena pada saat inilah biasanya penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) banyak timbul. mengapa demikian? marilah kita temukan jawabannya melalui bincang-bincang bersama DR. Ifael. M,Sp.PD-KPTI, dokter spesialis penyakit dalam sekaligus konsultan penyakit tropik dan infeksi di Eka Hospital.

 Ada beberapa jenis Demam Berdarah dan apa bedanya?

Sebenarnya demam berdarah hanya ada satu jenis saja. Yang membedakan adalah tipe virus penyebabnya. Demam Berdarah Dengue disebakan oleh virus Dengue, yang terdiri atas Dengue virus 1, Dengue virus 2, Dengue virus 3, Dengue virus 4. Semua tipe virus sama berbahayanya jika tidak ditangani secara memadai.

Apakah Demam Berdarah Dengue (DBD)?

Demam Berdarah Dengue merupakan demam Dengue (DD) dengan kadar yang lebih berat karena pasien dapat mengalami syok dan perdarahan. Demam Dengue jarang sekali mengakibatkan kematian, sedangkan demam berdarah Dengue dapat berakibat fatal jika terlambat ditangani.

Bagaimana membedakannya dengan demam biasa?

Secara kasat mata, DBD dan demam biaa tidak dapat dibedakan. Diperlukan pegecekan secara klinis dan laboratorium untuk mengetahuinya secara pasti. Apabila seseoang mengalami demam tinggi dalam 2x 24jam, dan panas tubuhnya tidak turun walaupun diobati, maka orang tersebut harus mendapatkan pertolongan secara medis. Jangan biarkan tanpa pertolongan medis, karena masa kritis penyakit DBD adalah hari ketiga dan keempat, dimana pasien dapat mengalami syok yang dapat mengakibatkan kematian.
Panas tubuh pasien BD selalu berada di atas normal (minimal 38,5°C) lalu naik kembali ke 39°C dan seterusnya.

Jika seseorang dikatakan menderita penyakit ‘gejala DBD’, apakah itu semua sama artinya dengan menderita DBD?

Istilah penyakit ‘gejala DBD’ sebaliknya tidak digunakan karena dapat menimbulkan keraguan dan persepsi yang berbeda dari penyakit DBD yang sebenarnya. Penyakit DBD seharusnya sudah menjadi perhatian utama tenaga medis ketika pasien mengalami demam tinggi yang tidak kunjung membaik walaupun sudah mengkonsumsi obat penurun panas.
Apakah pasien DBD harus dirawat di rumah sakit?
Perawatan yang dibutuhkan oleh pasien DBD terutama adalah masuknya cairan sebagai pengganti cairan tubuh yang bocor keluar dari pembuluh darah, yang dirusak oleh virus Dengue. Sakit yang diderita pasien seringkali mempersulit proses makan dan minum yang sangat dibutuhkan untuk pemulihan kondisi tubuh. Pasien dianjurkan untuk dirawat di rumah sakit karena cairan makanan yang dibutuhkan dapat diberikan melalui infus, sehingga perawatan dan pengobatan dapat teratur dan terpantau dengan lebih baik. Selain itu, perawatan di rumah sakit juga sangat memudahkan pengecekkan darah pasien, yang harus dilakukan setiap hari di laboratorium.
Indikator pasien harus dirawat di rumah sakit adalah jika trombosit berada di bawah angka 100.000, karena semakin rendah trombosit, berarti semakin banyak cairan yang hilang dari tubuh pasen. Jadi rawat inap pada kasus DBD bertujuan untk mempercepat pemulihan pasien membantu keluarga dalam merawat, dan yang terpenting adalah menghindari terjadinya syok.

Apa saja gejala DBD?

Gejala DBD secara umum dengan gejala penyakit akibat virus lainnya, yaitu:

  • Demam tinggi, di atas 38,5°C
  • Sakit kepala
  • Pegal linu
  • Nyeri ulu hati, mual, muntah
  • Turunnya leukosit dan trombosit

Kapankah kondisi pasien DBD dikatakan kritis?

Perjalanan pernyakit DBD selama 7 hari, dimana masa kritisnya berada ada hari ke-3, ke-4 dan ke-5. Jika terjadi komplikasi penyakit lain, seperti tifus dan lain-lain, maka masa pemulihan akan menjadi lebih lama.

Mengapa DBD dapat menyebabkan kematian?

Sebenarnya pasien DBD tindak memerlukan pengobatan tertentu. Yang sangat penting bagi pasien: menjaga agar tubuh tidak kekurangan cairan, mengingat mekanisme penyakit DBD adalah rusaknya pembuluh darah oleh virus yang mengakibatkan tubuh kehilangan cairan secara cepat sehingga menyebabkan syok. Ciri-ciri penyakir DBD adalah: keluarnya keringat dingin, tekanan darah menurun, denyut nadi semakin cepat, hingga berujung kepada kematian.
Kondisi pasien harus benar-benar dijaga agar tidak kekuangan cairan. Penanganan utama yang harus dilakukan adalah mengganti cairan yang hilang tersebut sampai pembuluh darah yang rusak menjadi pulih kembali.

Apakah DBD dapat menular selain melalui nyamuk?

Penyakir DBD dapat dikatakan sangat bergantung terhadap lingkungan, terutama jika terdapat genangan air yang tenang dan jernih. Itulah sebabnya mengapa penyakit DBD banyak timbul di musim pancaroba, dimana hujan dan panas datang silih berganti. Genangan air yang terjadi dapat bertahan cukup lama bagi jentik-jentik nyamuk untuk berkembang menjadi nyamuk dewasa.
Virus DBD hanya dapat berkembang biak didalam tubuh nyamuk Aedes Aegypti. Walaupun berada di dalam darah, virus tersebut tidak dapat ditularkan melalui medium lain, termasuk antar-manusia.

Apa saja tips mencegah DBD?

Prinsip utama mencegah DBD adalah jangan sampai tubuh digigit oleh nyamuk. Untuk itu, kita harus mengetahui siklus kehidupan nyamuk penyebab DBD. Berbeda dari nyamuk malaria yang aktif mulai jam 7-8 pagi hingga jam 5 sore. Oleh karena itu, mereka yang aktif di luar ruang pada jam-jam tersebut harus waspada.
Gunakan kelambu atau kawat penelan nyamuk untuk menghindari masuknya nyamuk kedalam rumah. Kemudian, berantas nyamuk dewasa dengan fogging (pengaapan dengan obat khusus), serta membasmi jentik nyamuk dengan memperhatikan tempat di mana nyamuk dapat berkembang biak, seperti vas bunga, kolam dan wadah yang dapat menampung air, jika gejala DBD terlihat, segera bawa pasien ke rumah sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut oleh dokter dan mendapatkan pertolongan segera.

 

Ditulis oleh :

Dr. Ifael Y. Mauleti, SpPD-KPTI, FINASIM
TIM DOKTER SPESIALIS PENYAKIT DALAM EKA HOSPITAL BSD
Eka Hospital http://www.ekahospital.com/

Published in Sehati
Thursday, 11 June 2015 00:00

Demam Berdarah pada Anak

Pada anak, penyakit yang diderita dapat bersifat sementara dan bersifat akut (tidak menahun), ada pula penyakit yang membutuhkan perawatan jangka panjang, yang sering disebut sebagai penyakit kronik. Salah satu contoh dari penyakit yang bersifat sementara ini adalah Demam Berdarah Dengue. Tetapi walaupun tidak membutuhkan perawatan jangka panjang, anak yang menderita DBD tetap harus diperhatikan dan dirawat dengan benar, mengapa? Mari kita bahas lebih lanjut.

Demam berdarah dengue (DBD) adalah penyakit demam akut dengan ciri-ciri demam dengan menifestasi perdarahan dan ada kecenderungan mengakibatkan syok (penurunan kesadaran) yang dapat menyebabkan kematian. Penyebab dari DBD adalah virus dengue serotype 1,2,3 dan 4 yang ditularkan melalui vector nyamuk Aedes aegypti. Virus ini juga dapat menyebabkan penyakit yang kita kenal dengan demam dengue. Hampir mirip dengan demam berdarah dengue, ya? Hanya saja, pada kasus demam berdarah dengue pembuluh darah mengalami kebocoran sehingga cairan plasma di dalamnya merembes ke luar.

Akibatnya pembuluh darah seolah mengalami kekosongan, darah menjadi kental dan tekanan darah menurun secara drastis, mengakibatkan aliran darah ke organ-organ penting seperti otak dan ginjal menurun. Hal ini bisa mengakibatkan kegagalan organ hingga kematian. Demam berdarah adalah momok yang ditakuti pada musim hujan. Setiap musim ini datang, hampir bisa dipatikan jumlah penderita demam berdarah dengue (DBD) di rumah sakit meningkat.

Namun, banyak juga penderita DBD yang tidak terdeteksi atau tidak tertangani secara tepat. Akibatnya mereka dibawa dalam keadaan sudah terlambat atau sulit ditangani. Banyak yang akhirnya meninggal atau sembuh tapi meninggalkan kecacatan. Sebelum terlambat, mari kenali gejala demam berdarah pada anak.

Seringkali orang salah kaprah dengan istilah demam berdarah. Mereka mengira bahwa demam berdarah berbahaya karena berdarah-darah. Padahal, DBD mengandung bahaya yang tersembunyi yang lebih besar. Penderita DBD rentan mengalami syok (kehilangan kesadaran) akibat adanya kebocoran plasma. Syok akan terjadi tiba-tiba dan biasanya terjadi pada hari ke-5 sejak pertama kali anak demam.

Gejala dari DBD pada anak; secara klinis:

1. Demam tinggi dengan mendadak dan terus-menerus selama 2-7 hari

2. Adanya perdarahan, seperti mimisan, bintik-bintik merah pada kulit, istilah medis bisa disebut petekie, perdarahan gusi, buang air besar berdarah, dll

3. Kulit pucat, dingin dan lembab terutama pada ujung jari kaki, tangan dan hidung sedangkan kuku menjadi biru. Hal ini disebabkan oleh sirkulasi yang kurang cukup.

4. Anak yang semula rewel, cengeng dan gelisah lambat laun kesadarannya menurun menjadi apatis (acuh) bahkan sampai koma (tingkat kesadaran paling buruk).

5. Pembesaran organ hati

6. Frekuensi dan jumlah buang air kecil berkurang bahkan sampai tidak ada sama sekali.

Gambaran laboratorium terdapat penurunan trombosit (trombositopenia; <100.000/ul) dan hemokonsentrasi (yaitu nilai hematokrit lebih 20% dari normal). Dua gejala klinis di atas ditambah satu gejala laboratorium cukup untuk menegakkan diagnosa DBD pada anak.

Kebanyakan orang enggan membawa anaknya ke dokter bila panas baru berlangsung satu atau dua hari. Selain berharap panasnya akan segera turun, orang tua juga melihat kondisi anaknya masih baik-baik saja sehingga menunda ke dokter. Pada dasarnya DBD adalah penyakit yang sebenarnya dapat sembuh sendiri meski tidak diobati. Obat yang diberikan hanya mengurangi gejala-gejala di atas, seperti demam, sakit kepala, mual dan muntah. Selama menunggu masa kritis lewat orang tua wajib menjaga agar jangan sampai terjadi syok (penurunan kesadaran) pada anak. Caranya adalah dengan memberikan banyak cairan, baik berupa air putih, oralit ataupun jus buah. Jika terdapat keadaan yang gawat darurat, pengobatan dan perawatan mutlak diperlukan. Misalnya bila terjadi perdarahan hebat, kejang atau penurunan kesadaran. Penurunan kesadaran ini dapat terlihat jika anak mengantuk terus, bicara kacau atau tidak merespon bila diajak bicara, hingga tidur dan tidak bangun-bangun.

Umumnya dokter akan mencari tahu apakah anak perlu dirawat atau tidak. Keputusan rawat atau tidak bergantung pada hasil laboratorium, kemampuan anak untuk makan dan minum, kondisi umum anak, serta ada tidaknya komplikasi. Pengobatan DBD pada dasarnya bersifat suportif yaitu mengatasi kehilangan cairan plasma sebagai akibat peningkatan permeabilitas kapiler dan sebagai akibat perdarahan.

Bila si kecil sudah pernah terkena DBD, bukan berarti anda boleh bernapas lega. Karena virus dengue memiliki empat tipe, maka kekebalan yang timbul juga hanya terdapat tipe yang menyerang saja. Bahkan bila di kemudian hari anak terserang virus dengue dari tipe lain, reaksinya bisa lebih berat dan parah. Ini karena reaksi antibodi yang terbentuk dari infeksi sebelumnya dapat mengenali virus tapi tidak bisa melawannya. Untuk itu diperlukan beberapa langkah pencegahan yang mudah dilakukan diantaranya; kuras bak mandi dan tempat-tempat penampung air semingu sekali atau bila terdapat jentik nyamuk Aedes aegypti. Bak tetap harus dikuras meski anda sudah menaburkan bubuk abate.

Agar lebih maksimal, tempat-tempat penampungan air harus ditutup agar nyamuk tidak mampir dan bertelur di tempat tersebut. Barang-barang yang tidak lagi terpakai sebaiknya dibuang atau dikubur agar tidak menampung air. Pencegahan ekstra dapat anda berikan untuk si kecil. Misalnya dengan menggunakan kelambu, terutama pada siang hari (saat nyamuk Aedes aegypti sedang aktif menggigit), serta losion anti nyamuk. Mengenakan pakaian yang tertutup juga dapat menjauhkan anak dari gigitan nyamuk. Sumber:

1. http://idai.or.id/public-articles/seputar-kesehatan-anak/penilaian-kualitas-hidup-anak-aspek-penting-yang-sering-terlewatkan.html

2. Kapita Selekta Kedokteran Jilid 2, edisi ketiga, editor: Arif Mansjoer, dkk. 2000, penerbit: Media Aesculapis Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia

3. Buku Ajar Infeksi dan Pediatri Tropis, edisi kedua, 2010, penerbit: Bagian Ilmu Kesehatan Anak Universitas Indonesia

4. Majalah Kesehatan Keluarga Dokter Kita, edisi 3 tahun X Maret 2015, halaman: 27-29

Published in Sehati
logo-footer PT. Administrasi Medika


iso-admedika telkomedikalogo metralogo telkomlogo
Official Social Channels   Facebook   Twitter   Twitter   Twitter