Sehati - Sehat Indonesiaku

AdMedika Health Blog

Friday, 18 March 2016 00:00

Bagaimana Penanganan Demam pada Anak

Demam pada anak umumnya akan membuat anak rewel, tidak dapat tidur, tidak mau makan, lemas, kurang aktif dan membuat orang tua cemas. Demam merupakan suatu rekaksinormal tubuh yang muncul apabila tubuh melawan kuman. Suhu pada anak yang demam akan meningkat di atas angka normal (36,5 – 37,5C).

Apa yang dapat dilakukan pada anak yang demam? Ada beberapa hal yang dapat dilakukan orang tua apabila anaknya demam

1.    Obat Penurun panas
Salah satu obat yang harus selalu ada di rumah dan terjaga kondisinya adalah obat demam, karena demam dapat terjadi kapan saja pada anak. Obat demam akan membantu menurunkan suhu tubuh anak, berfungsi sebagai anti nyeri dan membuat anak merasa lebih nyaman. Obat ini dapat diberikan pada anak demam dengan suhu di atas 38C.  

2.    Kompres
Kompres yang dianjurkan untuk dilakukan adalalah kompres hangat. Kompres hangat dapat dilakukan dengan  memakai wash lap / sponge yang dibasahi air hangat dengan suhu 37-38C, basuh perlahan di seluruh tubuh anak kemudian keringkan dengan handuk kering, tindakan ini dapat dikerjakan beberapa kali hingga suhu tubuh anak turun. Setelah itu pakaikan anak dengan pakaian yang tidak terlalu tebal dan selimut tipis, hal ini berfungsi untuk membantu penurunan suhu tubuh anak melalui proses penguapan. Kompres juga dapat dilakukan di daerah lipat ketiak dan selangkangan selama 10-15 menit. Kompres air dingin tidak dianjurkan karena dapat meningkatkan pusat pengatur suhu di otak dan mengakibatkan badan anak menggigil dan suhu semakin meningkat. Kompres alkohol juga tidak dianjurkan karena tidak efektif dan mempunyai efek samping yang tidak diinginkan.

3.    Cairan
Metabolisme tubuh akan meningkat pada saat terjadi demam sehingga hal yang tidak boleh dilupakan adalah memberikan cairan yang cukup pada anak, hal ini juga akan membantu menurunkan panas tubuh anak.

4.    Tirah baring
Aktifitas fisik yang tinggi dapat meningkatkan suhu tubuh pada anak dengan demam dan tanpa demam.  Pergerakan anak yang demam selama aktivitas normal tidak cukup menyebabkan demam.

5.    Monitoring
Pemantauan adalah salah satu hal penting yang perlu dilakukan oleh orang tua di rumah saat anaknya demam. Apa saja yang perlu dipantau? suhu tubuh anak setiap 4 jam, tanda-tanda dehidrasi / kekurangan cairan,  buang air kecil setiap 3-4 jam, aktivitas anak, dan tanda lain yang menyertai demam.

Kapan orang tua harus segera membawa anaknya untuk dibawa berkonsultasi ke dokter anak?

  • Apabila tindakan yang disebutkan di atas sudah dilakukan namun suhu anak tidak turun dan cenderung naik
  • Demam disertai kejang
  • Terdapat infeksi yang dicurigai menyebabkan demam
  • Apabila anak lebih sering tidur, malas minum dan buang air kecil semakiin jarang
  • Terdapat gejala / keluhan lain yang menyertai demam.

Kesimpulan

Demam merupakan reaksi tubuh yang normal. Tindakan yang tepat dan pemantauan sangat diperlukan dalam mengatasi demam pada anak.

 

Ditulis oleh

Dr. Nurul Iman Nilam Sari, SpA

RS Premier Jatinegara

http://www.rs-premierjatinegara.com/

Published in Sehati
Thursday, 11 June 2015 00:00

Demam Berdarah pada Anak

Pada anak, penyakit yang diderita dapat bersifat sementara dan bersifat akut (tidak menahun), ada pula penyakit yang membutuhkan perawatan jangka panjang, yang sering disebut sebagai penyakit kronik. Salah satu contoh dari penyakit yang bersifat sementara ini adalah Demam Berdarah Dengue. Tetapi walaupun tidak membutuhkan perawatan jangka panjang, anak yang menderita DBD tetap harus diperhatikan dan dirawat dengan benar, mengapa? Mari kita bahas lebih lanjut.

Demam berdarah dengue (DBD) adalah penyakit demam akut dengan ciri-ciri demam dengan menifestasi perdarahan dan ada kecenderungan mengakibatkan syok (penurunan kesadaran) yang dapat menyebabkan kematian. Penyebab dari DBD adalah virus dengue serotype 1,2,3 dan 4 yang ditularkan melalui vector nyamuk Aedes aegypti. Virus ini juga dapat menyebabkan penyakit yang kita kenal dengan demam dengue. Hampir mirip dengan demam berdarah dengue, ya? Hanya saja, pada kasus demam berdarah dengue pembuluh darah mengalami kebocoran sehingga cairan plasma di dalamnya merembes ke luar.

Akibatnya pembuluh darah seolah mengalami kekosongan, darah menjadi kental dan tekanan darah menurun secara drastis, mengakibatkan aliran darah ke organ-organ penting seperti otak dan ginjal menurun. Hal ini bisa mengakibatkan kegagalan organ hingga kematian. Demam berdarah adalah momok yang ditakuti pada musim hujan. Setiap musim ini datang, hampir bisa dipatikan jumlah penderita demam berdarah dengue (DBD) di rumah sakit meningkat.

Namun, banyak juga penderita DBD yang tidak terdeteksi atau tidak tertangani secara tepat. Akibatnya mereka dibawa dalam keadaan sudah terlambat atau sulit ditangani. Banyak yang akhirnya meninggal atau sembuh tapi meninggalkan kecacatan. Sebelum terlambat, mari kenali gejala demam berdarah pada anak.

Seringkali orang salah kaprah dengan istilah demam berdarah. Mereka mengira bahwa demam berdarah berbahaya karena berdarah-darah. Padahal, DBD mengandung bahaya yang tersembunyi yang lebih besar. Penderita DBD rentan mengalami syok (kehilangan kesadaran) akibat adanya kebocoran plasma. Syok akan terjadi tiba-tiba dan biasanya terjadi pada hari ke-5 sejak pertama kali anak demam.

Gejala dari DBD pada anak; secara klinis:

1. Demam tinggi dengan mendadak dan terus-menerus selama 2-7 hari

2. Adanya perdarahan, seperti mimisan, bintik-bintik merah pada kulit, istilah medis bisa disebut petekie, perdarahan gusi, buang air besar berdarah, dll

3. Kulit pucat, dingin dan lembab terutama pada ujung jari kaki, tangan dan hidung sedangkan kuku menjadi biru. Hal ini disebabkan oleh sirkulasi yang kurang cukup.

4. Anak yang semula rewel, cengeng dan gelisah lambat laun kesadarannya menurun menjadi apatis (acuh) bahkan sampai koma (tingkat kesadaran paling buruk).

5. Pembesaran organ hati

6. Frekuensi dan jumlah buang air kecil berkurang bahkan sampai tidak ada sama sekali.

Gambaran laboratorium terdapat penurunan trombosit (trombositopenia; <100.000/ul) dan hemokonsentrasi (yaitu nilai hematokrit lebih 20% dari normal). Dua gejala klinis di atas ditambah satu gejala laboratorium cukup untuk menegakkan diagnosa DBD pada anak.

Kebanyakan orang enggan membawa anaknya ke dokter bila panas baru berlangsung satu atau dua hari. Selain berharap panasnya akan segera turun, orang tua juga melihat kondisi anaknya masih baik-baik saja sehingga menunda ke dokter. Pada dasarnya DBD adalah penyakit yang sebenarnya dapat sembuh sendiri meski tidak diobati. Obat yang diberikan hanya mengurangi gejala-gejala di atas, seperti demam, sakit kepala, mual dan muntah. Selama menunggu masa kritis lewat orang tua wajib menjaga agar jangan sampai terjadi syok (penurunan kesadaran) pada anak. Caranya adalah dengan memberikan banyak cairan, baik berupa air putih, oralit ataupun jus buah. Jika terdapat keadaan yang gawat darurat, pengobatan dan perawatan mutlak diperlukan. Misalnya bila terjadi perdarahan hebat, kejang atau penurunan kesadaran. Penurunan kesadaran ini dapat terlihat jika anak mengantuk terus, bicara kacau atau tidak merespon bila diajak bicara, hingga tidur dan tidak bangun-bangun.

Umumnya dokter akan mencari tahu apakah anak perlu dirawat atau tidak. Keputusan rawat atau tidak bergantung pada hasil laboratorium, kemampuan anak untuk makan dan minum, kondisi umum anak, serta ada tidaknya komplikasi. Pengobatan DBD pada dasarnya bersifat suportif yaitu mengatasi kehilangan cairan plasma sebagai akibat peningkatan permeabilitas kapiler dan sebagai akibat perdarahan.

Bila si kecil sudah pernah terkena DBD, bukan berarti anda boleh bernapas lega. Karena virus dengue memiliki empat tipe, maka kekebalan yang timbul juga hanya terdapat tipe yang menyerang saja. Bahkan bila di kemudian hari anak terserang virus dengue dari tipe lain, reaksinya bisa lebih berat dan parah. Ini karena reaksi antibodi yang terbentuk dari infeksi sebelumnya dapat mengenali virus tapi tidak bisa melawannya. Untuk itu diperlukan beberapa langkah pencegahan yang mudah dilakukan diantaranya; kuras bak mandi dan tempat-tempat penampung air semingu sekali atau bila terdapat jentik nyamuk Aedes aegypti. Bak tetap harus dikuras meski anda sudah menaburkan bubuk abate.

Agar lebih maksimal, tempat-tempat penampungan air harus ditutup agar nyamuk tidak mampir dan bertelur di tempat tersebut. Barang-barang yang tidak lagi terpakai sebaiknya dibuang atau dikubur agar tidak menampung air. Pencegahan ekstra dapat anda berikan untuk si kecil. Misalnya dengan menggunakan kelambu, terutama pada siang hari (saat nyamuk Aedes aegypti sedang aktif menggigit), serta losion anti nyamuk. Mengenakan pakaian yang tertutup juga dapat menjauhkan anak dari gigitan nyamuk. Sumber:

1. http://idai.or.id/public-articles/seputar-kesehatan-anak/penilaian-kualitas-hidup-anak-aspek-penting-yang-sering-terlewatkan.html

2. Kapita Selekta Kedokteran Jilid 2, edisi ketiga, editor: Arif Mansjoer, dkk. 2000, penerbit: Media Aesculapis Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia

3. Buku Ajar Infeksi dan Pediatri Tropis, edisi kedua, 2010, penerbit: Bagian Ilmu Kesehatan Anak Universitas Indonesia

4. Majalah Kesehatan Keluarga Dokter Kita, edisi 3 tahun X Maret 2015, halaman: 27-29

Published in Sehati
logo-footer PT. Administrasi Medika


iso-admedika telkomedikalogo metralogo telkomlogo
Official Social Channels   Facebook   Twitter   Twitter   Twitter