Sehati - Sehat Indonesiaku

AdMedika Health Blog

Friday, 18 March 2016 00:00

Kanker Serviks Dan Pencegahannya

Kanker serviks adalah kelainan di serviks (mulut Rahim wanita), bagian paling sempit dan terbawah dari rahim. Rahim merupakan tempat pertumbuhan perkembangan janin selama kehamilan. Serviks menghubungkan bagian paling bawah Rahim dengan vagina, melalui jalan lahir.

Pertumbuhan kanker serviks biasanya sangat lambat, bisa sampai bertahun-tahun lamanya. Permukaan sel serviks berubah dari normal menjadi tidak normal. Pada awalnya, perubahannya hanyalah ketidak normalan saja, bukan kanker. Abnormalitas yang terjadi merupakan pertanda adanya perubahan awal yang mengarah ke kanker.

Beberapa perubahan abnormal (pre-kanker) tidak membutuhkan terapi, akan tetapi beberapa pre-kanker membutuhkan perhatian khusus supaya tidak berkembang menjadi kanker. Fase penyakit ini yang disebut sebagai “dysplasia”. Seringkali, jaringan pre-kanker dapat dihilangkan / dihancurkan tanpa mengganggu jaringan yang sehat, tapi pada beberapa kasus, dibutuhkan tindakan histerektomi (pengangkatan rahim) untuk mencegah terjadinya kanker serviks. Penanganan lesi pre-kanker tergantung dari besarnya lesi, perubahan yang terjadi pada sel serviks, keinginan untuk memiliki anak, usia pasien, kesehatan pasien secara menyeluruh dan keinginan dari pasien yang disampaikan pada dokter.
Jika sel pre-kanker berubah menjadi sel kanker dan menyebar lebih dalam di serviks atau menyebar ke jaringan dan organ lainnya, barulah dinyatakan sebagai kanker serviks.
Kanker serviks dibedakan menjadi dua tipe utama, yang berdasarkan tipe sel dimana kanker tersebut bermula:

  • Squamous cell carcinoma, 85%-90% dari seluruh kanker serviks
  • Adenocarcinoma , 10%-15% kanker serviks lainnya

Dengan mempelajari banyak kasus pada wanita diseluruh dunia, banyak peneliti telah menyimpulkan beberapa faktor resiko yang dapat meningkatkan kemungkinan sel serviks menjadi abnormal atau kanker. Para peneliti tersebut meyakini bahwa pada banyak kasus, kanker serviks terjadi ketika ada dua atau lebih faktor resiko yang ditemukan.

Penelitian menunjukan bahwa wanita yang melakukan hubungan seksual sebelum usia 18 tahun dan memiliki banyak pasangan seksual meningkatkan kemungkinan terjadinya kanker serviks. Wanita juga memiliki resiko yang tinggi apabila pasangan seksualnya pernah melakukan hubungan seksual diusia yang masih sangat muda, memiliki banyak pasangan seksual atau sebelumnya pernah menikah dengan wanita yang menderita kanker serviks.

Belum diketahui secara pasti mengapa hubungan seksual antara wanita dan pasangannya meningkatkan resiko terjadinya kanker serviks. Hingga saat ini diyakini bahwa beberapa virus yang ditularkan melalui hubungan seksual dapat menyebabkan perubahan pada sel serviks yang dapat berakhir dengan kanker. Wanita dan pria yang memiliki lebih dari 1 pasangan seksual meningkatkan resiko terjadinya kanker serviks dikarenakan mereka memiliki virus yang ditularkan melalui hubungan seksual.

Ditemukan efek dari human papilloma virus (HPV) yang ditularkan melalui hubungan seksual. Beberapa virus HPV menyebabkan kutil pada daerah gental (kondiloma akuminata). VirusHPV dapat menyebabkan perubahan pertumbuhan sel di serviks menjadi tidak normal yang dapat mengakibatkan terjadinya kanker serviks. Beberapa peneliti menemukan bahwa wanita dengan infeksi HPV atau yang pasangannya terinfeksi HPV memiliki resiko yang lebih tinggi untuk menjadi kanker serviks.

Merokok merupakan salah satu factor resiko terjadinya kanker serviks meskipun tidak dapat diketahui secara pasti mengapa atau bagaimana. Resiko semakin meningkat berdasarkan jumlah rokok yang dihisap setiap hari dan lamanya wanita tersebut menjadi perokok.

Wanita dengan ibu yang diberikan terapi diethylstilbestrol (DES) ketika hamil untuk mencegah terjadinya keguguran juga memiliki resiko tinggi untuk menjadi kanker serviks (obat ini digunakan untuk mencegah keguguran sekitar tahun 1940-1970). Tipe kanker serviks yang terjadi merupakan tipe yang sangat langka yang ditemukan pada sebagian kecil wanita kanker serviks dengan riwayat ibunya diberikan DES.
Beberapa penelitian juga melaporkan kejadian kanker serviks yang meningkat pada wanita dengan sistem imunitas yang lemah. Misalnya saja wanita dengan HIV yang menyebabkan AIDS. Juga pasien dengan dengan transplantasi organ yang diberikan oban penekan sistem imunitas untuk mencegah penolakan organ baru yang ditransplantasikan.

Beberapa gejala dibawah ini dapat disebabkan oleh kanker serviks, apabila ditemukan salah satu dari gejala tersebut, sebaiknya dikonsultasikan kepada dokter supaya dapat diketahui penyebab pastinya :

  • Pendarahan pervaginam
  • Cairan vagina yang tidak biasa
  • Nyeri pelvik
  • Nyeri ketika hubungan seksual

Penanganan kanker serviks dalam kehamilan tergantung dari stadium kanker dan usia kehamilan. Untuk kanker serviks yang dideteksi pada trimester akhir kehamilan, penanganan nya bisa ditunda hingga bayi lahir.

Dikemudian hari, deteksi dini dan terapi jaringan pre-kanker merupakan cara yang paling efektif untuk mencegah terjadinya kanker serviks. Para wanita semestinya melakukan konsultasi dengan dokter spesialis obstetri dan ginekologi mengenai deteksi dini dan menjadwalkan untuk dilakukan check-up.

Biasanya tidak ada gejala khusus yang menandai terjadinya kanker serviks stadium awal, akan tetapi dapat dilakukan deteksi dini setiap tahunnya yaitu dengan pap smear yang dapat dilanjutkan dengan vaksinasi HPV.

 

Ditulis oleh:

Dr. Arif Budiman Syahputra, SpOG, MKes
Spesialis Obstetri & Ginekologi RS Awal Bros Tangerang

http://www.tangerang.awalbros.com/

Published in Sehati
Thursday, 14 August 2014 00:00

Hamil Anggur (Mola Hydatidosa)

Pada umumnya kehamilan normal berakhir dengan lahirnya bayi yang cukup bulan dan sempurna secara fisik. Tetapi kenyataannya  tidak selalu demikian, sebagian kehamilan mengalami kegagalan, tergantung pada tahap dan jenis gangguan yang terjadi. Kehamilan tersebut dapat berakhir dengan abortus, kehamilan ektopik, prematuritas, kematian janin dalam rahim atau bayi lahir dengan cacat bawaan. Salah satu bentuk kegagalan kehamilan yang berkembang tidak normal yaitu mola hidatidosa, kehamilan ini tidak disertai janin namun hanya berupa gelembung-gelembung seperti buah anggur berasal dari vili korialis dengan sel-sel trofoblasnya.

Lima belas sampai dua puluh persen penderita mola hidatidosa dapat berubah menjadi ganas dan dikenal dengan tumor trofoblas gestasional. Jadi yang dimaksud dengan penyakit trofoblas gestasional adalah mola hidatidosa yang jinak dan tumor trofoblas gestasional yang ganas. Penyakit trofoblas adalah suatu istilah umum yang digunakan bagi sekumpulan penyakit yang ditandai dengan adanya proliferasi berlebihan dari sel-sel trofoblas. Penyakit ini dibagi menjadi 2 kelompok berdasarkan asalnya, yaitu:

  1. Penyakit trofoblas gestasional yang berasal dari jaringan trofoblas kehamilan
  2. Penyakit trofoblas non gestasional yang berasal dari jaringan embrional

Penyakit trofoblas gestasional adalah sekumpulan penyakit yang berkaitan dengan vili korialis, terutama sel trofoblasnya dan berasal dari suatu kehamilan, terdiri dari mola hidatidosa komplit dan mola hidatidosa parsial yang bersifat jinak dan mola invasif, koriokarsinoma, placental site trophoblastic tumor yang bersifat ganas.

Hingga saat ini penyakit trofoblas gestasional masih merupakan masalah obstetri yang cukup serius, karena menyebabkan morbiditas dan mortalitas yang cukup tinggi. Morbiditas yang dapat timbul dari penyakit ini umumnya karena penyulit yang menyertainya, seperti perdarahan, preeklamsi berat dan tiroktosikosis dan bila terlambat ditangani dapat menyebabkan kematian. Selain itu bila koriokarsinoma atau mola invasif terjadi pada pasien usia muda yang masih memerlukan fungsi reproduksi, upaya pengobatannya dapat menyebabkan pasien tersebut kehilangan fungsi reproduksinya karena tindakan histerektomi. Hal ini berarti PTG selain merupakan masalah karena memberikan kontribusi yang cukup besar bagi angka mortalitas dan morbiditas ibu, juga menjadi masalah bagi kesehatan reproduksi. Dengan demikian diperlukan upaya yang menyeluruh, terpadu dan berkesinambungan untuk menurunkan insidensi penyakit ini, mulai dari upaya prefensi, deteksi dini dan pengobatan yang rasional, termasuk registrasi dan pemantauan kasus yang cermat.  

Penyakit ini lebih banyak dijumpai pada golongan sosio ekonomi rendah. Di Indonesia menurut laporan beberapa penulis dari berbagai daerah menunjukkan angka kejadian yang berbeda-beda. Angka kejadian Mola Hidatidosa di Indonesia berkisar antara 1 : 51 sampai 1 : 141 kehamilan. Di Rumah Sakit Dr. Soetomo Surabaya antara tahun 1960 sampai 1964 diperoleh angka kejadian 1 : 96 persalinan, antara tahun 1970 sampai 1974 angka kejadian Mola Hidatidosa 1 : 55 kejadian persalinan (Suande Duarsa, 1978). Dari data tersebut diatas, nampak adanya kenaikan angka kejadian Mola Hidatidosa di Surabaya dan sekitarnya. Sedangkan di negara barat angka kejadian ini lebih rendah dari pada negara-negara Asia dan Amerika Latin, misalnya Amerika Serikan 1 : 1450 kehamilan (Hertig & Sheldon, 1978) dan di Inggris 1 : 1500 (Womack & Elston, 1985).

Published in Sehati

Gangguan haid merupakan masalah yang sering terjadi di kalangan remaja. Kelainan atau gangguan haid ini sering menimbulkan masalah kecemasan (anxietas) bagi pasien dan keluarganya. Gangguan haid yang sering ditemukan diantaranya adalah amenore, perdarahan uterin abnormal / disfungsi (PUD), dismenore, menorragia dan premenstrual sindrom.

Rata-rata usia menarche atau pertama kali mengalami haid adalah sekitar 12,9 th. Dengan masa siklus normal yang sangat bervariasi.Siklus menstruasi yang normal ditandai dengan masa siklus sekitar 28 hari ± 7 hari, durasi perdarahan sekitar 4 hari ± 2 hari, dan kehilangan darah sekitar 40 ml ± 20 mL. Rata-rata volume kehilangan darah dari menstruasi adalah 43 mL, dengan variasi range normal sekitar 20-80 mL.

Siklus haid yang tidak teratur (irreguler) biasa dijumpai pada gadis yang baru mulai menstruasi. Hal ini mungkin membuat pasien merasakan perubahan yang tidak nyaman pada tubuhnya, jadi dimungkinkan ia dapat mempunyai siklus 28 hari untuk 2 bulan, kemudian tidak haid 1 bulan, sebagai contohnya. Tetapi biasanya, setelah tahun pertama atau kedua, siklus menstruasi akan menjadi lebih teratur.Meski demikian pada beberapa siklus haid wanita yang irregular ini tetap berlangsung sampai dewasa sehingga menimbulkan masalah-masalah tertentu.

Kelainan menstruasi dapat terjadi bergantung periode waktu. Seperti misalnya pada remaja lebih sering terjadi dismenore, ireguleritas, dan perdarahan uterus disfungsi (PUD), pada masa reproduksi lebih sering menorragia, metrorhagia, PUD, amenore, oligomenore, dan pada masa premenopause sering iregularitas, amenore, oligomenore, dan PUD.

Secara umum kelainan siklus menstruasi berasal dari gangguan pada aksis HPO (Hipotalamus-pituitari-ovarium). Sebagian lainnya dapat juga disebabkan sekunder karena :

  • Penyakit sistemik
  • Penyakit degeneratif
  • Gangguan psikologi
  • Neoplasma
  • Radiasi
  • Penyakit darah
  • Malnutrisi
  • Gangguan fisiologi sel (kelainan pada neurotransmitter, neurohormonal, atau reseptor)
Published in Sehati
Wednesday, 23 July 2014 00:00

Mengenal Kanker Serviks

Kanker serviks, atau kanker yang menyerang leher rahim, dikatakan dapat menyerang perempuan mana pun, berbagai usia, terutama mereka yang sudah aktif melakukan hubungan badan, walau belum menikah sekalipun. Semua perempuan akan semakin tinggi risikonya tertular human papilloma virus (HPV), virus yang menyebabkan kanker serviks, jika semakin banyak memiliki pasangan seksual.

Published in Sehati
logo-footer PT. Administrasi Medika


iso-admedika telkomedikalogo metralogo telkomlogo
Official Social Channels   Facebook   Twitter   Twitter   Twitter