Sehati - Sehat Indonesiaku

AdMedika Health Blog

dr Dwi Santoso

dr Dwi Santoso

Graduated from Faculty of Medicine, Yarsi University class of 1998. Has worked in hospitals and Baiturrahman Garut Medical Centre before joining AdMedika in 2011 as Head of Medical Adviser.

Pada umumnya kehamilan normal berakhir dengan lahirnya bayi yang cukup bulan dan sempurna secara fisik. Tetapi kenyataannya  tidak selalu demikian, sebagian kehamilan mengalami kegagalan, tergantung pada tahap dan jenis gangguan yang terjadi. Kehamilan tersebut dapat berakhir dengan abortus, kehamilan ektopik, prematuritas, kematian janin dalam rahim atau bayi lahir dengan cacat bawaan. Salah satu bentuk kegagalan kehamilan yang berkembang tidak normal yaitu mola hidatidosa, kehamilan ini tidak disertai janin namun hanya berupa gelembung-gelembung seperti buah anggur berasal dari vili korialis dengan sel-sel trofoblasnya.

Lima belas sampai dua puluh persen penderita mola hidatidosa dapat berubah menjadi ganas dan dikenal dengan tumor trofoblas gestasional. Jadi yang dimaksud dengan penyakit trofoblas gestasional adalah mola hidatidosa yang jinak dan tumor trofoblas gestasional yang ganas. Penyakit trofoblas adalah suatu istilah umum yang digunakan bagi sekumpulan penyakit yang ditandai dengan adanya proliferasi berlebihan dari sel-sel trofoblas. Penyakit ini dibagi menjadi 2 kelompok berdasarkan asalnya, yaitu:

  1. Penyakit trofoblas gestasional yang berasal dari jaringan trofoblas kehamilan
  2. Penyakit trofoblas non gestasional yang berasal dari jaringan embrional

Penyakit trofoblas gestasional adalah sekumpulan penyakit yang berkaitan dengan vili korialis, terutama sel trofoblasnya dan berasal dari suatu kehamilan, terdiri dari mola hidatidosa komplit dan mola hidatidosa parsial yang bersifat jinak dan mola invasif, koriokarsinoma, placental site trophoblastic tumor yang bersifat ganas.

Hingga saat ini penyakit trofoblas gestasional masih merupakan masalah obstetri yang cukup serius, karena menyebabkan morbiditas dan mortalitas yang cukup tinggi. Morbiditas yang dapat timbul dari penyakit ini umumnya karena penyulit yang menyertainya, seperti perdarahan, preeklamsi berat dan tiroktosikosis dan bila terlambat ditangani dapat menyebabkan kematian. Selain itu bila koriokarsinoma atau mola invasif terjadi pada pasien usia muda yang masih memerlukan fungsi reproduksi, upaya pengobatannya dapat menyebabkan pasien tersebut kehilangan fungsi reproduksinya karena tindakan histerektomi. Hal ini berarti PTG selain merupakan masalah karena memberikan kontribusi yang cukup besar bagi angka mortalitas dan morbiditas ibu, juga menjadi masalah bagi kesehatan reproduksi. Dengan demikian diperlukan upaya yang menyeluruh, terpadu dan berkesinambungan untuk menurunkan insidensi penyakit ini, mulai dari upaya prefensi, deteksi dini dan pengobatan yang rasional, termasuk registrasi dan pemantauan kasus yang cermat.  

Penyakit ini lebih banyak dijumpai pada golongan sosio ekonomi rendah. Di Indonesia menurut laporan beberapa penulis dari berbagai daerah menunjukkan angka kejadian yang berbeda-beda. Angka kejadian Mola Hidatidosa di Indonesia berkisar antara 1 : 51 sampai 1 : 141 kehamilan. Di Rumah Sakit Dr. Soetomo Surabaya antara tahun 1960 sampai 1964 diperoleh angka kejadian 1 : 96 persalinan, antara tahun 1970 sampai 1974 angka kejadian Mola Hidatidosa 1 : 55 kejadian persalinan (Suande Duarsa, 1978). Dari data tersebut diatas, nampak adanya kenaikan angka kejadian Mola Hidatidosa di Surabaya dan sekitarnya. Sedangkan di negara barat angka kejadian ini lebih rendah dari pada negara-negara Asia dan Amerika Latin, misalnya Amerika Serikan 1 : 1450 kehamilan (Hertig & Sheldon, 1978) dan di Inggris 1 : 1500 (Womack & Elston, 1985).

Gangguan haid merupakan masalah yang sering terjadi di kalangan remaja. Kelainan atau gangguan haid ini sering menimbulkan masalah kecemasan (anxietas) bagi pasien dan keluarganya. Gangguan haid yang sering ditemukan diantaranya adalah amenore, perdarahan uterin abnormal / disfungsi (PUD), dismenore, menorragia dan premenstrual sindrom.

Rata-rata usia menarche atau pertama kali mengalami haid adalah sekitar 12,9 th. Dengan masa siklus normal yang sangat bervariasi.Siklus menstruasi yang normal ditandai dengan masa siklus sekitar 28 hari ± 7 hari, durasi perdarahan sekitar 4 hari ± 2 hari, dan kehilangan darah sekitar 40 ml ± 20 mL. Rata-rata volume kehilangan darah dari menstruasi adalah 43 mL, dengan variasi range normal sekitar 20-80 mL.

Siklus haid yang tidak teratur (irreguler) biasa dijumpai pada gadis yang baru mulai menstruasi. Hal ini mungkin membuat pasien merasakan perubahan yang tidak nyaman pada tubuhnya, jadi dimungkinkan ia dapat mempunyai siklus 28 hari untuk 2 bulan, kemudian tidak haid 1 bulan, sebagai contohnya. Tetapi biasanya, setelah tahun pertama atau kedua, siklus menstruasi akan menjadi lebih teratur.Meski demikian pada beberapa siklus haid wanita yang irregular ini tetap berlangsung sampai dewasa sehingga menimbulkan masalah-masalah tertentu.

Kelainan menstruasi dapat terjadi bergantung periode waktu. Seperti misalnya pada remaja lebih sering terjadi dismenore, ireguleritas, dan perdarahan uterus disfungsi (PUD), pada masa reproduksi lebih sering menorragia, metrorhagia, PUD, amenore, oligomenore, dan pada masa premenopause sering iregularitas, amenore, oligomenore, dan PUD.

Secara umum kelainan siklus menstruasi berasal dari gangguan pada aksis HPO (Hipotalamus-pituitari-ovarium). Sebagian lainnya dapat juga disebabkan sekunder karena :

  • Penyakit sistemik
  • Penyakit degeneratif
  • Gangguan psikologi
  • Neoplasma
  • Radiasi
  • Penyakit darah
  • Malnutrisi
  • Gangguan fisiologi sel (kelainan pada neurotransmitter, neurohormonal, atau reseptor)
logo-footer PT. Administrasi Medika


iso-admedika telkomedikalogo metralogo telkomlogo
Official Social Channels   Facebook   Twitter   Twitter   Twitter