Sehati - Sehat Indonesiaku

AdMedika Health Blog

Mitra Sehati

Mitra Sehati

Kanker serviks adalah kelainan di serviks (mulut Rahim wanita), bagian paling sempit dan terbawah dari rahim. Rahim merupakan tempat pertumbuhan perkembangan janin selama kehamilan. Serviks menghubungkan bagian paling bawah Rahim dengan vagina, melalui jalan lahir.

Pertumbuhan kanker serviks biasanya sangat lambat, bisa sampai bertahun-tahun lamanya. Permukaan sel serviks berubah dari normal menjadi tidak normal. Pada awalnya, perubahannya hanyalah ketidak normalan saja, bukan kanker. Abnormalitas yang terjadi merupakan pertanda adanya perubahan awal yang mengarah ke kanker.

Beberapa perubahan abnormal (pre-kanker) tidak membutuhkan terapi, akan tetapi beberapa pre-kanker membutuhkan perhatian khusus supaya tidak berkembang menjadi kanker. Fase penyakit ini yang disebut sebagai “dysplasia”. Seringkali, jaringan pre-kanker dapat dihilangkan / dihancurkan tanpa mengganggu jaringan yang sehat, tapi pada beberapa kasus, dibutuhkan tindakan histerektomi (pengangkatan rahim) untuk mencegah terjadinya kanker serviks. Penanganan lesi pre-kanker tergantung dari besarnya lesi, perubahan yang terjadi pada sel serviks, keinginan untuk memiliki anak, usia pasien, kesehatan pasien secara menyeluruh dan keinginan dari pasien yang disampaikan pada dokter.
Jika sel pre-kanker berubah menjadi sel kanker dan menyebar lebih dalam di serviks atau menyebar ke jaringan dan organ lainnya, barulah dinyatakan sebagai kanker serviks.
Kanker serviks dibedakan menjadi dua tipe utama, yang berdasarkan tipe sel dimana kanker tersebut bermula:

  • Squamous cell carcinoma, 85%-90% dari seluruh kanker serviks
  • Adenocarcinoma , 10%-15% kanker serviks lainnya

Dengan mempelajari banyak kasus pada wanita diseluruh dunia, banyak peneliti telah menyimpulkan beberapa faktor resiko yang dapat meningkatkan kemungkinan sel serviks menjadi abnormal atau kanker. Para peneliti tersebut meyakini bahwa pada banyak kasus, kanker serviks terjadi ketika ada dua atau lebih faktor resiko yang ditemukan.

Penelitian menunjukan bahwa wanita yang melakukan hubungan seksual sebelum usia 18 tahun dan memiliki banyak pasangan seksual meningkatkan kemungkinan terjadinya kanker serviks. Wanita juga memiliki resiko yang tinggi apabila pasangan seksualnya pernah melakukan hubungan seksual diusia yang masih sangat muda, memiliki banyak pasangan seksual atau sebelumnya pernah menikah dengan wanita yang menderita kanker serviks.

Belum diketahui secara pasti mengapa hubungan seksual antara wanita dan pasangannya meningkatkan resiko terjadinya kanker serviks. Hingga saat ini diyakini bahwa beberapa virus yang ditularkan melalui hubungan seksual dapat menyebabkan perubahan pada sel serviks yang dapat berakhir dengan kanker. Wanita dan pria yang memiliki lebih dari 1 pasangan seksual meningkatkan resiko terjadinya kanker serviks dikarenakan mereka memiliki virus yang ditularkan melalui hubungan seksual.

Ditemukan efek dari human papilloma virus (HPV) yang ditularkan melalui hubungan seksual. Beberapa virus HPV menyebabkan kutil pada daerah gental (kondiloma akuminata). VirusHPV dapat menyebabkan perubahan pertumbuhan sel di serviks menjadi tidak normal yang dapat mengakibatkan terjadinya kanker serviks. Beberapa peneliti menemukan bahwa wanita dengan infeksi HPV atau yang pasangannya terinfeksi HPV memiliki resiko yang lebih tinggi untuk menjadi kanker serviks.

Merokok merupakan salah satu factor resiko terjadinya kanker serviks meskipun tidak dapat diketahui secara pasti mengapa atau bagaimana. Resiko semakin meningkat berdasarkan jumlah rokok yang dihisap setiap hari dan lamanya wanita tersebut menjadi perokok.

Wanita dengan ibu yang diberikan terapi diethylstilbestrol (DES) ketika hamil untuk mencegah terjadinya keguguran juga memiliki resiko tinggi untuk menjadi kanker serviks (obat ini digunakan untuk mencegah keguguran sekitar tahun 1940-1970). Tipe kanker serviks yang terjadi merupakan tipe yang sangat langka yang ditemukan pada sebagian kecil wanita kanker serviks dengan riwayat ibunya diberikan DES.
Beberapa penelitian juga melaporkan kejadian kanker serviks yang meningkat pada wanita dengan sistem imunitas yang lemah. Misalnya saja wanita dengan HIV yang menyebabkan AIDS. Juga pasien dengan dengan transplantasi organ yang diberikan oban penekan sistem imunitas untuk mencegah penolakan organ baru yang ditransplantasikan.

Beberapa gejala dibawah ini dapat disebabkan oleh kanker serviks, apabila ditemukan salah satu dari gejala tersebut, sebaiknya dikonsultasikan kepada dokter supaya dapat diketahui penyebab pastinya :

  • Pendarahan pervaginam
  • Cairan vagina yang tidak biasa
  • Nyeri pelvik
  • Nyeri ketika hubungan seksual

Penanganan kanker serviks dalam kehamilan tergantung dari stadium kanker dan usia kehamilan. Untuk kanker serviks yang dideteksi pada trimester akhir kehamilan, penanganan nya bisa ditunda hingga bayi lahir.

Dikemudian hari, deteksi dini dan terapi jaringan pre-kanker merupakan cara yang paling efektif untuk mencegah terjadinya kanker serviks. Para wanita semestinya melakukan konsultasi dengan dokter spesialis obstetri dan ginekologi mengenai deteksi dini dan menjadwalkan untuk dilakukan check-up.

Biasanya tidak ada gejala khusus yang menandai terjadinya kanker serviks stadium awal, akan tetapi dapat dilakukan deteksi dini setiap tahunnya yaitu dengan pap smear yang dapat dilanjutkan dengan vaksinasi HPV.

 

Ditulis oleh:

Dr. Arif Budiman Syahputra, SpOG, MKes
Spesialis Obstetri & Ginekologi RS Awal Bros Tangerang

http://www.tangerang.awalbros.com/

Hukuman mati belum memberikan efek jera bagi para pengedar narkotika di tanah air. Orangtua mau tidak mau harus siap dan waspada akan bahaya NAPZA yang mengintai anak-anak. Berikut beberapa informasi mengenai NAPZA yang penting diketahui orangtua.

Apa tanda-tanda anak yang mulai menggunakan obat-obat terlarang/psikotropika?
Obat terlarang, yang kini dikenal dengan istilah NAPZA (narkotika, psikotropika dan zat adiktif) merupakan zat yang menyebabkan gangguan kesehatan fisik, psikis, serta fungsi sosial, jika masuk ke dalam sistem tubuh manusia, serta dapat mengakibatkan ketagihan dan ketergantungan. Ciri-ciri ketergantungan NAPZA yang perlu diwaspadai antara lain:

  • Fisik: jalan sempoyongan, bicara cadel, nafsu makan tidak menentu, acuh tak acuh, mengantuk, tidak peduli terhadap kebersihan tubuh, gigi kropos, terdapat bekas suntikan pada lengan atau bagian tubuh lain, dan bila terjadi overdosis timbul gejala nafas sesak, denyut jantung dan nadi melambat, kulit dingin, nafas melambat/berhenti, serta dapat mengakibatkan kematian.
  • Psikis: agresif, paranoid, emosional, membangkang, serta lebih tertutup.
  • Perilaku/sosial: tidak dapat bertoleransi, enggan bergaul, melupakan tanggung jawab rutin, mulai berbohong, serta cepat kehabisan uang saku.

Jenis NAPZA apa saja yang umum beredar di kalangan anak/remaja, dan apa ciri-cirinya?

  • Narkotika: zat yang menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi/menghilangkan nyeri, dan menimbulkan ketergantungan. Contohnya adalah morfin, heroin, petidin, ganja, dll.
  • Psikotropika: zat stimulan yang bersifat psikoaktif melalui pengaruh selektif terhadap susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan aktivitas mental dan perilaku tertentu. Contohnya adalah ekstasi, amfetamin, dll.
  • Zat Adiktif: zat di luar narkotika dan psikotropika, namun juga bersifat psikoaktif. Contohnya adalah minuman berakohol, dan inhalasia (lem, thinner, nail remover, bensin, dll.).
  • Dirty Drugs: Campuran dari beberapa zat/obat sekaligus. Contohnya: Happy Five, dll.

Faktor apa saja yang dapat memicu penggunaan obat terlarang pada anak?

  • Faktor pribadi, antara lain: Ketidaktahuan, kurang pengendalian diri, emosi yang belum stabil, kurang penghargaan terhadap diri sendiri, kurang percaya diri, tertutup.
  • Faktor lingkungan keluarga dan sosial, antara lain:
  • broken home, orangtua yang otoriter, orangtua yang permisif, terpengaruh teman, masyarakat sekitar yang kurang peduli terhadap perkembangan NAPZA di lingkungan.
  • Faktor media, dimana paparan informasi sangat mempengaruhi masyarakat, termasuk anak.

PANTAU PERGAULAN ANAK
Anak adalah mahluk yang masih memerlukan bimbingan dan perlindungan orang tua. Jangan biarkan anak masuk ke dalam lingkungan pergaulan yang tidak baik dan kehilangan arah dalam meniti hidup mereka. Orangtua mengemban tanggung jawab penuh untuk membimbing anak-anak meniti hidup dan mempersiapkan masa depan mereka.

Bagaimana membekali anak, terutama anak yang berasal dari keluarga kurang harmonis/broken home?
Memberikan fondasi yang kuat berupa pendidikan agama dan moral secara konsisten sangat penting untuk membentengi anak. Orangtua juga hendaknya mengisi waktu luang bersama anak dengan memaksimalkan komunikasi meskipun orangtua berpisah.

Lingkungan yang seperti apa yang memiliki pengaruh kurang baik terhadap anak, terutama dalam hal pergaulan bebas?
Jaga anak untuk tidak masuk ke dalam lingkungan yang dapat memberikan pengaruh/contoh kurang baik, seperti pergaulan bebas, yang belum pantas bagi anak-anak, karena mereka belum dapat membentengi diri.

Apakah ada perilaku tertentu yang perlu diwaspadai oleh orangtua?
Orangtua sebaiknya harus selalu waspada, apapun  perubahan perilaku anak yang terjadi, terutama perilaku yang tidak sesuai dengan standar norma-norma serta etika. Contoh perilaku yang harus diwaspadai adalah suka berbohong, bolos sekolah, berkelahi, atau sering mengurung diri.

Bagaimana cara memilah ruang pergaulan anak, tanpa membuat anak merasa dikekang?
Sebaiknya orangtua berperan aktif memilih ruang pergaulan anak. Pilihlah ruang pergaulan yang positif, dimana terjalin kerjasama antar individu untuk menghasilkan hal-hal yang positif pula. Hal terpenting adalah komunikasi yang baik antara orangtua dan anak.

Dengan demikian orangtua dapat memberikan informasi mengenai hal-hal yang baik kepada anak, dan sebaliknya anak dapat mengekspresikan perasaannya tanpa merasa takut. Komunikasi yang baik juga dapat menjadi salah satu benteng yang mampu melindungi anak dari pengaruh lingkungan yang kurang baik.

Bagaimana cara memonitor perilaku anak, tanpa membuat mereka terintimidasi?
Orangtua sebaiknya mengawasi dan memonitor perilaku anak, namun tetap memberikan mereka kebebasan dalam koridor tertentu. Artinya, pergaulan mereka harus dibatasi dan didampingi, terutama bagi anak-anak di bawah umur. Pembatasan dan pendampingan tersebut termasuk akses internet, sosial media, juga lingkungan sosial yang dapat memberikan pengaruh negatif bagi anak.

Pada usia berapa sebaiknya pergaulan anak mulai diawasi?
Sejak anak sudah mulai belajar berinteraksi dengan lingkungan sosial pada usia 2 tahun keatas, orang tua harus mulai mengawasi pergaulannya. Mengapa? Karena pada saat usia tersebut anak bagaikan sponge dapat menyerap dengan mudah apa yang dilihat dan didengar dan membuat anak cenderung untuk meniru.

CARI BANTUAN PARA AHLI
Orang tua adalah manusia yang tidak luput dari kekurangan. Jangan sungkan dan segan mencari bantuan dari para ahli, psikolog, psikiater, maupun pemuka agama, jika orangtua mengalami kesulitan dalam menangangi masalah perilaku anak. Bantuan yang diberikan para ahli yang kompeten akan meringankan beban orang tua, sehingga diharapkan dapat memberikan solusi terbaik bagi permasalahan anak.

Ditulis oleh :

Dr. Guntara Hari, SpKJ – Tim dokter spesialis Kesehatan Jiwa
Siti Sa’diah Syam, M.Psi – Tim Psikologis Klinis
Eka Hospital http://www.ekahospital.com/

Globalisasi identik dengan berkembangnya teknologi multimedia (gadget) yang memudahkan setiap orang untuk mendapatkan informasi dari  internet, baik yang positif maupun negatif. Teknologi yang beberapa dekade lalu hanya dapat diakses oleh segelintir orang, kini telah dapat dinikmati oleh banyak kalangan, tidak terkecuali anak-anak. Bukan hanya pengaruh negatif informasi dari internet, bahaya lain yang mengintai anak adalah NAPZA dan pergaulan bebas. Bagaimana orang tua menyikapi pengaruh globalisasi ini?

GADGET DAN ANAK
Hampir setiap keluarga memiliki gadget yang cukup canggih dewasa ini. Rasanya ada yang kurang tanpa kehadiran alat komunikasi di tangan. Tidak ada yang salah dengan kebiasaan menggunakan gadget, namun diperlukan kearifan dalam mengakses informasi dari piranti ini, terutama bagi anak-anak.
Benarkah bahwa paparan teknologi, dalam hal ini piranti elektronik, lebih banyak dampak negatifnya dibandingkan positifnya?

Tidak. Teknologi merupakan alat yang bersifat netral, jadi penggunaannya, baik positif maupun negatif, tergantung pada isi dan orang yang memakainya. Contohnya adalah internet, sebagai dunia maya atau dunia tersendiri yang menampung banyak sekali informasi, ia berguna untuk berkomunikasi dan membagikan ilmu pengetahuan. Sayangnya, di antara informasi tersebut, terdapat pula kandungan negatif seperti pornografi dan paham-paham radikal yang berbahaya. Kebijaksanaan dari pengguna teknologi sangat berperan untuk memilah-milah informasi positif dari informasi negatif tadi.

Usia berapa sebaiknya anak dapat mulai diperkenalkan dengan gadget?
Sebaiknya sedini mungkin seorang anak dapat mengenal gadget, ia sudah boleh diperkenalkan dengan alat tersebut untuk mengembangkan kemampuan kognitifnya. Untuk mengenalkan gadget bisa dimulai di usia 5 Tahun, dan hanya bersifat edukatif. Pada usia ini tahap perkembangan kognitif anak berada pada tahap preoperasional. Sebagai bagian dari perkembangan teknologi, gadget sangat berguna bagi anak untuk mempelajari hal-hal baru yang bersifat edukatif, seperti mengenal benda, berhitung, juga membaca. Yang harus dibatasi adalah akses gadget tersebut terhadap internet, karena anak-anak sangat rentan terpengaruh informasi negatif.

Apa saja yang perlu diperhatikan oleh orang tua, ketika anak mulai berinteraksi dengan gadget?
Yang penting diperhatikan adalah bahwa informasi yang diberikan kepada anak bersifat positif dan edukatif. Selain itu “ aturan main” dan kesiapan anak dalam menerima informasi dari gadget dengan memperhatikan faktor keamanan, kemanfaatan, kepantasan, efek perkembangan dan pengaruhnya pada anak juga sangat penting diperhatikan.

Bagaimana penggunaan gadget secara bijaksana agar tidak memengaruhi perilaku normal anak?
Ingat bahwa penggunaan gadget hanyalah salah satu dari aktivitas anak, bukan fokus utama. Anak-anak juga perlu bermain bersama orangtua dan teman sebayanya. Jangan biarkan anak terpaku pada gadget secara berlebihan sehingga ia kecanduan pada alat tersebut dan mengalami defisit kognitif, perilaku dan emosi. Seimbangkan dengan kegiatan lain seperti bermain bola, art and craft, dll, sesuai dengan karakter, hobi, kebutuhan dan kemampuan anak.

 

Ditulis oleh :

Dr. Guntara Hari, SpKJ – Tim dokter spesialis Kesehatan Jiwa
Siti Sa’diah Syam, M.Psi – Tim Psikologis Klinis
Eka Hospital http://www.ekahospital.com/

Page 8 of 9
logo-footer PT. Administrasi Medika


iso-admedika telkomedikalogo metralogo telkomlogo
Official Social Channels   Facebook   Twitter   Twitter   Twitter