Sehati - Sehat Indonesiaku

AdMedika Health Blog

Mitra Sehati

Mitra Sehati

Salah satu masalah yang dihadapi saat bulan puasa adalah bau mulut. Atasi bau mulut dan tingkatkan rasa percaya diri agar puasa pun berjalan dengan mulus.

Tidak sedikit orang yang mengeluhkan bau mulut, dan karenanya merasa malu, risih, bahkan tidak pede. Apalagi di saat berpuasa, secara sadar dan tidak sadar, bau mulut kita menjadi lebih “sedap”. Bau mulut atau halitosis dapat diartikan sebagai bau tidak sedap yang tercium saat kita membuang napas dari mulut atau saat kita berbicara.

Bau mulut terutama bersumber dari dalam mulut kita, atau dapat pula disebabkan oleh hal lain yang berasal bukan dari dalam mulut. Beberapa faktor yang menyebabkan bau mulut antara lain:

Makanan
Makanan atau bumbu makanan tertentu mempunyai bau yang tajam, seperti bawang, daging, dan durian. Tentu saja bila ada sisa yang tertinggal di dalam mulut dapat meninggalkan jejak bau, apalagi bila terselip di antara gigi.

Masalah gigi dan gusi
Gigi yang berlubang (terutama yang sudah dalam dan membusuk), sisa akar gigi yang tidak dicabut, gusi yang meradang (membengkak), ataupun banyaknya karang gigi, dapat mengeluarkan bau tertentu yang tidak sedap. Kondisi-kondisi tersebut merupakan tempat tertimbunnya bakteri.

Kebersihan mulut
Kebersihan mulut yang tidak baik tentu saja menjadi sumber utama bau mulut. Jika kita tidak sikat gigi dan flossing dengan bersih, maka sisa makanan akan diuraikan oleh bakteri yang akan menghasilkan gas kimia volatile sulfur compounds(VSCs). Lidah merupakan daerah penyumbang terbesar bau mulut, terutama di daerah bagian belakang. Karena di daerah tersebut kering, adanya sisa partikel makanan, dan sel-sel mati menyebabkan bakteri penghasil VSCs tumbuh dengan suburnya.

Mulut kering
Air ludah membantu membersihkan mulut kita. Kurangnya asupan air minum atau adanya kondisi dry mouth dapat membuat mulut kering dan mengeluarkan bau tidak sedap. Contoh paling umum saat tidur, produksi air liur berkurang dan saat bangun pagi mulut kita akan mengeluarkan bau tidak sedap.

Gaya hidup
Kopi, produk tembakau, minuman beralkohol, dan lainnya juga dapat menyumbangkan bau mulut

Penyakit kronis
Hanya sekitar 10% dari penyebab bau mulut bersumber dari penyakit kronis, antara lain seperti penyakit diabetes, gagal ginjal, gagal hati,reflux asam lambung, kondisi hidung (seperti infeksi sinus) dan tenggorokan, serta obatobatan yang dapat menurunkan produksi air liur.

Bau mulut dan puasa
Ketika melakukan ibadah puasa, kita akan lebih rentan terkena bau mulut yang tidak sedap dikarenakan adanya pengurangan produksi air liur yang dapat membuat mulut menjadi kering. Akibatnya, jumlah oksigen di dalam mulut akan berkurang, bakteri penghasil VSCs bertumbuh dan membuat mulut berbau tidak sedap. Alangkah baiknya apabila sebelum memasuki bulan puasa kita melakukan persiapan-persiapan untuk memperbaiki masalah gigi dan mulut. Terutama membersihkan karang gigi, penambalan gigi berlubang, ataupun pencabutan sisa akar gigi.

Penanganan bau mulut
Penanganan bau mulut dapat bermacam-macam tergantung dari penyebabnya. Jika bau mulut bukan berasal dari mulut kita maka dianjurkan agar berkonsultasi dengan bagian yang terkait. Apabila bau mulut berasal dari masalah gigi dan gusi, maka dokter gigi akan membantu memperbaikinya sesuai dengan kebutuhan tiap individu.

Tips melawan bau mulut secara alami

  • Agar terbebas dari bau mulut, selain membutuhkan bantuan profesional, kita juga harus ikut berusaha dengan melakukan hal-hal berikut:
  • Menyikat gigi minimal dua kali sehari dan flossing minimal satu kali sehari, dengan sikat gigi yang kondisinya masih baik
  • Membersihkan lidah kita dengan toungue cleaner/scraper
  • Membersihkan gigi palsu lepasan secara rutin dan dilepas saat tidur (apabila memakai)
  • Sering minum air putih agar mulut tetap basah sehingga tidak terjadi mulut kering
  • Mengunyah permen karet yang tidak mengandung gula atau yang mengandung gula xylitol dapat merangsang produksi air liur
  • Mengurangi makanan atau minuman yang mempunyai bau tajam
  • Check-up rutin ke dokter gigi setiap 6 bulan sekali
  • Menggunakan obat kumur yang mempunyai bahan aktif oksigen, karena bahan aktif oksigen dapat membantu melawan bakteri penghasil VSCs dan obat kumur itu sendiri dapat membantu membersihkan bagian-bagian yang sulit disikat seperti bagian belakang lidah kita.

 

Ditulis oleh :

drg. alexander Bryan
Tim Dokter Klinik Gigi Eka Hospital BSD
Eka Hospital http://www.ekahospital.com/

Olah raga penting untuk menjaga agar tubuh tetap bugar dan sehat. A healthy mind in a healthy body. Dengan tubuh yang sehat, jiwa juga akan menjadi sehat. Bagaimana dengan bulan puasa? Apakah selama bulan puasa Anda masih tetap bisa berolahraga?

Selain perubahan komposisi makanan, selama bulan puasa juga terjadi perubahan pola dan jam makan, minum dan tidur. Perubahan tersebut akan memperlambat metabolism dan menjadikan fungsi tubuh tidak optimal. Komponen makanan disimpan selama tidur di malam hari sehingga orang yang berpuasa cenderung berat badannya naik. Olah raga menjadikan makanan yang dikonsumsi ‘diarahkan’ untuk memperbaiki otot. Jadi agar tubuh tetap fit, selama bulan puasa Anda dianjurkan untuk tetap melakukan olah raga yang biasa Anda lakukan, hanya waktunya saja yang disesuaikan.

Olah raga pada bulan puasa dapat dilakukan di pagi hari setelah shalat Subuh, di sore hari menjelang berbuka atau malam hari setelah shalat Tarawih. Setelah berolahraga, Anda tidak akan dapat segera mengembalikan cadangan glikogen yang terbakar selama berolahraga sehingga biasanya akan terasa pusing. Idealnya olah raga dilakukan 90 menit sebelum buka sehingga ketika berbuka nanti Anda
akan mendapatkan tambahan cadangan energi dan glikogen.

“Tetap melakukan olah raga merupakan cara yang sehat untuk menjalani bulan puasa, memelihara ketahanan rohani, jiwa dan fisik untuk mencapai keseimbangan.”

Anda yang menyandang diabetes tipe 1, tidak dianjurkan untuk berolahraga selama bulan puasa karena dapat menyebabkan hipoglikemia. Penyandang diabetes tipe 2 masih diperbolehkan untuk berolahraga dengan intensitas rendah dan maksimal selama 35 menit berupa aerobik dan latihan kekuatan.

Jika Anda menderita hipertensi atau tekanan darah tinggi, lakukan olah raga intensitas rendah dengan denyut nadi maksimal 75%. Denyut nadi maksimal setiap orang berbeda-beda, tergantung usia, jenis kelamin dan faktor risiko kesehatan. Penderita hipertensi akan mengalami kenaikan tekanan darah selama dan setelah olah raga, dan penurunannya lebih lama dibandingkan dengan orang sehat. Tetapi jika hipertensinya terkontrol baik dengan diet dan obat-obatan pada malam hari setelah berbuka, maka pengaturan tekanan darah selama dan setelah olah raga akan lebih baik.

Tips

  • Lakukan aktivitas aerobik sedang (misalnya jalan cepat) selama minimal 30 menit , 5 kali seminggu.
  • Untuk menghindari dehidrasi, lakukan olah raga dalam ruang tertutup (indoor).
  • Segera berhenti jika terasa pusing atau mual.
  • Banyak minum air putih di malam hari setelah berbuka.

Anda yang baru mengalami cedera sebaiknya olah raga intensitas rendah selama maksimum 30 menit karena selama berpuasa tubuh Anda menggunakan lebih banyak energi selama fase pemulihan cedera maupun nyeri. Melakukan latihan aerobik selama Ramadhan dapat mengurangi lemak tubuh dan juga memperbaiki profil lemak tubuh. Untuk menghindari dehidrasi, pastikan asupan cairan Anda pada malam hari setelah berbuka cukup. Olah raga selama Ramadhan tidak menimbulkan efek yang tidak diinginkan terhadap fungsi ginjal maupun sistem ketahanan tubuh, jadi aman untuk dilakukan.

Ingat, selalu konsultasikan jenis olah raga apa yang sesuai dengan kondisi fisik Anda, karena setiap individu memiliki ketahanan dan kebutuhan yang berbeda-beda. Selamat berpuasa dan tetap berolah raga!

 

Ditulis oleh :

Dr. Erwin A. D. Nanulaitta, SpKFR
Tim Dokter Fisik & Rehabilitasi Eka Hospital Pekanbaru
Eka Hospital http://www.ekahospital.com/

Page 9 of 9
logo-footer PT. Administrasi Medika


iso-admedika telkomedikalogo metralogo telkomlogo
Official Social Channels   Facebook   Twitter   Twitter   Twitter