Sehati - Sehat Indonesiaku

AdMedika Health Blog

Mitra Sehati

Mitra Sehati

Kenali Gejala Osteoarthtritis
Mitos mengatakan bahwa penyakit rematik dan osteoarthtritis yag menyerang sendi dan struktur-struktur disekitarnya, akan menyambangi para lansia. Benarkah mitos tersebut? Mari kita ketahui jawabannya bersama.

Diketahui Penyebab Rematik
Pada dasarnya , penyakit rematik dapat dibedakan berdasarkan penyebabnya, yang pertama karena proses peradangan dan kedua karena proses degenerasi (penuaan). Pada usia muda, sendi yang normal mempunyai permukaan halus dan mengkilap. Namun proses penuaan atau degenerasi, yang dimulai pada usia dewasa awal dan berlanjut perlahan sepanjang usia, akan menyebabkan permukaan sendi berubah menjadi berbulir-bulir dan kasar.

Secara teori, sendi-sendi yang tersusun oleh tulang rawan, sebenarnya hampir seluruhnya dapat bertahan seumur hidup. Sayangnya, tulangrawan yang terdapat pada sendi hanya mempunyai kemampuan yang sangat terbatas untuk regenerai, sehingga proses degenerasi yang terjadi cenderung bersifat irreversible (tidak dapat kembali) dan progreif (memburuk). Apa yang terjadi pada proses degenerasi ini dapat dijelaskan oleh ilmu biokimia kedokteran. Disini dijelaskan bahwa proteoglycan, yang merupakan komponen dasar tulang rawan yang ada pada sendi, secara bertahap akan hilang sehingga collagen yang merupakan komponen lain dalam tulang rawan akan kehilangan pendukungnya dan selanjutnya tulang rawan tersebut akan tergerus. Seiring bertambahnya usia, fungsi sebagai penyerap goncangan dan sebagai permukaan yang dilumas pada sendi menjadi tidak efektif lagi.

Osteoarthtritis
Perubahan degenerasi sendi terjadi pada semua orang dewasa, walaupun dengan derajat yang berbeda-beda. Namun, perubahan degenerasi yang menonjol pada sebagian besar orang, sehingga perubahan degenerasi ini dapat dianggap sebagai variasi normal, seperti halnya rematik, akan tetapi jika perubahan degenerasi pada suatu sendi terjadi sebelum waktunya atau terjadi secara signifikan dan menyebabkan rasa nyeri, maka keadaan ini tidak dianggap sebagai variasi normal lagi, namun disebut sebagai osteoarthtritis, atau penyakit sendi degenerative ( degenerative joint disease). Kebanyakan orang yang merasakan osteoarthtritis sebagai gejala ringan yang hanya menimbulkan perasaan tidak nyaman pada sendi, atau sering menganggap karena ‘sudah tua’. Pada beberapa orang, proses degenerasi nyeri dan kadang sampai menimbulkan komplikasi, sehingga membutuhkan terapi.

Osteoarthtritis adalah penyakit local pada sendi, dan tidak mempunyai efek pada anggota tubuh yang lain. Penyakit ini umumnya paling sering terjadi pada sendi yang bertugas membawa beban berat tubuh, seperti pada sendi panggul dan lutut, juga pada sendi tulang belakang bagian bawah. Diperkirakan sekitar 25% perempuan dan 15% laki-laki beruia 60 tahun akan mengalami gejala osteoatrhtritis, dan pada usia di atas 75 tahun, lebih dari 80% laki-laki dan perempuan akan mengalaminya.

Penyebab osteoatrhtritis
Bedasarkan penyebabnya, osteoarthtritis dapat dibedakan menjadi dua, yaitu primer dan sekunder. Osteoarthritis primer lebih sering terjadi pada perempuan dewasa di usia pertengahan, sedangkan yang sekunder lebih sering terjadi pada laki-laki dewasa sehubungan dengan riwayat trauma atau cedera yang lebih sering dialami olh kelompok populasi ini.

Pada osteoarthtritis primer, proses penuaan normal pada tulang rawan sendi terjadi sebelum waktunya disebabkan faktor genetik atau faktor lain yang sampai sekarang belum diketahui (idiopatik). Degenerasi yang sudah terjadi pada suatu sendi karena osteoarthritis primer, khususnya pada sendi lutut, dapat dipercepat atau diperburuk oleh kesalahan penggunaan sendi secara terus-menerus dan karena obesitas.

Sementara itu, osteoarthritis sekunder terjadi sering dibandingkan osteoarthtritis primer. Pada osteoarthtritis sekunder, terjadi perubahan awal pada tulang rawan sendi, yang nantinya akan berkembang menjadi osteoarthtritis. Perubahan awal ini dapat diakibatkan oleh cedera, deformitas tulang, dan penyakit-penyakit tertentu.

Ditulis Oleh:

Dr. Widyastuti S.U, Sp.Ot
TIM DOKTER SPESIALIS ORTHOPAEDI, EKA HOSPITAL BSD
Eka Hospital http://www.ekahospital.com/

Apa penyebab dan bagaimana mencegahnya?
Penyakit asma merupakan penyakit kronis dijumpai pada anak. Penyakit ini lebih sering terjadi pada anak laki-laki dibandingkan anak perempuan. Pada orang dewasa gejala asma sangat khas, sebaliknya pada anak penyakit tersebut kadang sulit ditentukan, karena kemiripannya dengan penyakit saluran napas lainnya. Mari kita kenali asma lebih dalam lagi agar penanganannya dapat dilakukan secara optimal, demi kenyaman si kecil.

Apa yang dimaksud dengan asma?
Asma adalah suatu kondisi yang kronis dimana terjadi penyempitan dan pembengkakan saluran nafas, disertai produksi lender yang berlebihan dari saluran napas tersebut. Kondisi ini menyebabkan anak sulit bernapas, timbul gejala batuk, serta napas yang sesak dan berbunyi seperti siulan (mengi). Asma biasanya timbul karena adanya pencetus yang spesifik. Bentuk serangan asma pada sebagian anak dapat berupa serangan berat hingga menimbulkan ancaman henti nafas.

Apakah bayi dan balita dapat terkena penyakit asma? Anak usia berapa yang rentan mengalami asma?
Asma dapat menyerang tanpa memandang usia, bahkan usia balita sekalipun. Akan tetapi umumnya anak dengan usia sekolah (6tahun) adalah usia yang mulai sering ditemukan terserang asma. Pada anak-anak usia 3 tahun pertama, perlu diperhatikan adanya gejala mengi pada infeksi saluran nafas yang menyerupai asma. Namun mengi akibat infeksi virus saluran pernafasan yang berulang pada anak di usia 3 yahun pertama, dengan disertai eksim/ruam (dermatitis atopi) dan riwayat asma dalam keluarga, dapat memiliki risiko mengalami asma di kemudian hari.

Apakah penyakit asma bersifat genetik?
Ya, asma merupakan penyakit akibat kelainan genetik. Risiko terjadinya asma semakin tinggi bila ada riwayat anggota keluarga, baik orangtua atau saudara kandung dengan asma. Serangan asma tidak hanya berdiri tunggal. Maksudnya adalah, serangan dapat terjadi bila ada infeksi yang komplesk antara faktor genetik dan faktor lingkungan sebagai pencetus.

Bagaimana cara mencegah terjadinya serangan asma pada anak?
Agar anak dapat terhindar dari serangan asma, dapat dilakukan pencegahan dengan menghindari factor-faktor pencetus, seperti: kondisi lingkungan (udara dingin, polusi, hujan) infeksi saluran nafas atas, exercise (olah raga yang dapat memicu asma), serta allergen dan iritan seperti tungau debu rumah, serbuk sari, kecoa, bulu kucing dan anjing, jamur, parfum dan asap rokok.
Pemberian obat-obatan setiap hari oleh dokter sebagai penanganan jangka panjang juga dapat mencegah serangan asma, khususnya pada anak penderita asma yang sering kambuh atau asma persisten.

Bagaimana penyakit asma dapat diketahui sedini mungkin pada anak?
Penyakit asma pada anak dapat diketahui dari gejala-gejala yang timbul, yaitu batuk, mengi, sesak nafas, yang sering terjadi karena ada faktor-faktor pencetus, diantaranya adanya riwayat atopi (alergi atau asma dalam keluarga), gender (laki-laki lebih sering daripada perempuan), obesitas, infeksi saluran nafas, asap rokok dan terpapar dengan allergen.
Pemeriksaan dengan alat spirometer dan/atau peak flow meter untuk menguji fungsi paru dapat dilakukan hanya pada anak mulai usia 6 tahun ke atas. Sementara pada anak di bawah 6 tahun, biasanya pengujian dapat dilakukan dengan pemberian obat-obatan pada anak yang dicurigai asma untuk memastikan diagnosis.

Apa tindakan pertama yang harus dilakukan pada anak dengan serangan asma?
Pertolongan pertama yang terbaik adalah segera bawa ke rumah sakit terdekat, karena sesak nafas akibat penyempitan saluran nafas harus diatasi secepat mungkin. Pemberian oksigen dan terapi inhalasi menggunakan obat-obatan yang berfungsi melebarkan saluran nafas akan dilakuan oleh dokter. Pada kasus asma serangan barat seringkali diperlukan perawatan rumah sakit.
Sementara itu, pada kasus asma dengan serangan ringan dan keluarga telah terlaitih, tindakan di rumah untuk pertolongan pertama dapat dilakukan bila tersedia obat inhalasi dengan metode inhalasi dosis terukur atau terapi inhalasi dengan menggunakan alat nebulizer. Bila belum teratasi segera ke rumah sakit terdekat. Setelah sesak teratasi, dianjurkan kontrol ke dokter anak untuk penangan asma jangka panjang bila diperlukan.

Asma terkendali adalah asma yang tidak bergejala dengan/atau tanpa obat pengendali dan kualitas hisup pasien baik

Bagaimana anak dengan asma dapat disembuhkan, dan apakah asma dapat kambuh kembali?
Anak dengan asma tidak dapat sembuh total. Selain itu asma merupakan penyakit kronis sehingga sangat mungkin dapat kambuh, terutama bila tidak disiplin menghindari faktor-faktor pencetus atau mengurangi faktor risiko. Oleh karena itu tujuan dari penanganan asma yang benar adalah bukan sembuh, tetapi terkendalinya penyakit. Asma terkendali adalah asma yang tidak bergejala dengan/atau tanpa obat pengendali dan kualitas hidup pasien baik.

Ditulis Oleh:

Dr. Pingkan Palilingan, Sp.A.
TIM DOKTER SPESIALIS ANAK, EKA HOSPITAL BSD

Eka Hospital http://www.ekahospital.com/

 

Menjelang hari raya lebaran mudik atau pulang ke kampung halaman merupakan tradisi yang lazim dilakukan oleh sebagian besar warga tanah air. Namun agar dapat merayakan hari raya bersama keluarga tercinta di kampung halaman memerlukan tips dan trik khusus saat mudik agar perjalanan dapat berjalan dengan lancar, salah satunyaa adalah persiapan fisik yang baik, untung menunjang mobilitas mudik yang dilakukan saat bulan ramadhan.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar perjalanan nyaman dan ibadah puasa tetap berjalan dengan lancar yang pertama adalah usahakan suhu AC di dalam mobil jangan terlalu dingin, karena udara yang dingin cenderung membuat kita merasa haus selain itu banyak minum saat sahur untuk menghindari dehidrasi dan juga banyak mengkonsumsi sayur dan buah buahan juga dapat ditambahkan multivitamin saat sahur untuk menghindari kekurangan nutrisi, bagi yang membawa anak anak selama perjalanan hindari memberikan anak makanan yang berlemak dan juga jangan memberi anak makan secara berlebihan sebelum perjalanan agar tidak mual selama perjalanan dapat disiapkan agar agar atau pudding sebagai cemilan agar tidak membuat anak mual selama perjalanan.

Ditulis oleh

Dr. Tonggo Moina Marini, M.Gizi, Sp.GK – (Doker Spesialis Gizi Premier Jatinegara Klinik RS)

RS Premier Jatinegara

http://www.rs-premierjatinegara.com/

Page 4 of 9
logo-footer PT. Administrasi Medika


iso-admedika telkomedikalogo metralogo telkomlogo
Official Social Channels   Facebook   Twitter   Twitter   Twitter