Sehati - Sehat Indonesiaku

AdMedika Health Blog

Kamis, 11 Juni 2015 00:00

Demam Berdarah pada Anak

Pada anak, penyakit yang diderita dapat bersifat sementara dan bersifat akut (tidak menahun), ada pula penyakit yang membutuhkan perawatan jangka panjang, yang sering disebut sebagai penyakit kronik. Salah satu contoh dari penyakit yang bersifat sementara ini adalah Demam Berdarah Dengue. Tetapi walaupun tidak membutuhkan perawatan jangka panjang, anak yang menderita DBD tetap harus diperhatikan dan dirawat dengan benar, mengapa? Mari kita bahas lebih lanjut.

Demam berdarah dengue (DBD) adalah penyakit demam akut dengan ciri-ciri demam dengan menifestasi perdarahan dan ada kecenderungan mengakibatkan syok (penurunan kesadaran) yang dapat menyebabkan kematian. Penyebab dari DBD adalah virus dengue serotype 1,2,3 dan 4 yang ditularkan melalui vector nyamuk Aedes aegypti. Virus ini juga dapat menyebabkan penyakit yang kita kenal dengan demam dengue. Hampir mirip dengan demam berdarah dengue, ya? Hanya saja, pada kasus demam berdarah dengue pembuluh darah mengalami kebocoran sehingga cairan plasma di dalamnya merembes ke luar.

Akibatnya pembuluh darah seolah mengalami kekosongan, darah menjadi kental dan tekanan darah menurun secara drastis, mengakibatkan aliran darah ke organ-organ penting seperti otak dan ginjal menurun. Hal ini bisa mengakibatkan kegagalan organ hingga kematian. Demam berdarah adalah momok yang ditakuti pada musim hujan. Setiap musim ini datang, hampir bisa dipatikan jumlah penderita demam berdarah dengue (DBD) di rumah sakit meningkat.

Namun, banyak juga penderita DBD yang tidak terdeteksi atau tidak tertangani secara tepat. Akibatnya mereka dibawa dalam keadaan sudah terlambat atau sulit ditangani. Banyak yang akhirnya meninggal atau sembuh tapi meninggalkan kecacatan. Sebelum terlambat, mari kenali gejala demam berdarah pada anak.

Seringkali orang salah kaprah dengan istilah demam berdarah. Mereka mengira bahwa demam berdarah berbahaya karena berdarah-darah. Padahal, DBD mengandung bahaya yang tersembunyi yang lebih besar. Penderita DBD rentan mengalami syok (kehilangan kesadaran) akibat adanya kebocoran plasma. Syok akan terjadi tiba-tiba dan biasanya terjadi pada hari ke-5 sejak pertama kali anak demam.

Gejala dari DBD pada anak; secara klinis:

1. Demam tinggi dengan mendadak dan terus-menerus selama 2-7 hari

2. Adanya perdarahan, seperti mimisan, bintik-bintik merah pada kulit, istilah medis bisa disebut petekie, perdarahan gusi, buang air besar berdarah, dll

3. Kulit pucat, dingin dan lembab terutama pada ujung jari kaki, tangan dan hidung sedangkan kuku menjadi biru. Hal ini disebabkan oleh sirkulasi yang kurang cukup.

4. Anak yang semula rewel, cengeng dan gelisah lambat laun kesadarannya menurun menjadi apatis (acuh) bahkan sampai koma (tingkat kesadaran paling buruk).

5. Pembesaran organ hati

6. Frekuensi dan jumlah buang air kecil berkurang bahkan sampai tidak ada sama sekali.

Gambaran laboratorium terdapat penurunan trombosit (trombositopenia; <100.000/ul) dan hemokonsentrasi (yaitu nilai hematokrit lebih 20% dari normal). Dua gejala klinis di atas ditambah satu gejala laboratorium cukup untuk menegakkan diagnosa DBD pada anak.

Kebanyakan orang enggan membawa anaknya ke dokter bila panas baru berlangsung satu atau dua hari. Selain berharap panasnya akan segera turun, orang tua juga melihat kondisi anaknya masih baik-baik saja sehingga menunda ke dokter. Pada dasarnya DBD adalah penyakit yang sebenarnya dapat sembuh sendiri meski tidak diobati. Obat yang diberikan hanya mengurangi gejala-gejala di atas, seperti demam, sakit kepala, mual dan muntah. Selama menunggu masa kritis lewat orang tua wajib menjaga agar jangan sampai terjadi syok (penurunan kesadaran) pada anak. Caranya adalah dengan memberikan banyak cairan, baik berupa air putih, oralit ataupun jus buah. Jika terdapat keadaan yang gawat darurat, pengobatan dan perawatan mutlak diperlukan. Misalnya bila terjadi perdarahan hebat, kejang atau penurunan kesadaran. Penurunan kesadaran ini dapat terlihat jika anak mengantuk terus, bicara kacau atau tidak merespon bila diajak bicara, hingga tidur dan tidak bangun-bangun.

Umumnya dokter akan mencari tahu apakah anak perlu dirawat atau tidak. Keputusan rawat atau tidak bergantung pada hasil laboratorium, kemampuan anak untuk makan dan minum, kondisi umum anak, serta ada tidaknya komplikasi. Pengobatan DBD pada dasarnya bersifat suportif yaitu mengatasi kehilangan cairan plasma sebagai akibat peningkatan permeabilitas kapiler dan sebagai akibat perdarahan.

Bila si kecil sudah pernah terkena DBD, bukan berarti anda boleh bernapas lega. Karena virus dengue memiliki empat tipe, maka kekebalan yang timbul juga hanya terdapat tipe yang menyerang saja. Bahkan bila di kemudian hari anak terserang virus dengue dari tipe lain, reaksinya bisa lebih berat dan parah. Ini karena reaksi antibodi yang terbentuk dari infeksi sebelumnya dapat mengenali virus tapi tidak bisa melawannya. Untuk itu diperlukan beberapa langkah pencegahan yang mudah dilakukan diantaranya; kuras bak mandi dan tempat-tempat penampung air semingu sekali atau bila terdapat jentik nyamuk Aedes aegypti. Bak tetap harus dikuras meski anda sudah menaburkan bubuk abate.

Agar lebih maksimal, tempat-tempat penampungan air harus ditutup agar nyamuk tidak mampir dan bertelur di tempat tersebut. Barang-barang yang tidak lagi terpakai sebaiknya dibuang atau dikubur agar tidak menampung air. Pencegahan ekstra dapat anda berikan untuk si kecil. Misalnya dengan menggunakan kelambu, terutama pada siang hari (saat nyamuk Aedes aegypti sedang aktif menggigit), serta losion anti nyamuk. Mengenakan pakaian yang tertutup juga dapat menjauhkan anak dari gigitan nyamuk. Sumber:

1. http://idai.or.id/public-articles/seputar-kesehatan-anak/penilaian-kualitas-hidup-anak-aspek-penting-yang-sering-terlewatkan.html

2. Kapita Selekta Kedokteran Jilid 2, edisi ketiga, editor: Arif Mansjoer, dkk. 2000, penerbit: Media Aesculapis Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia

3. Buku Ajar Infeksi dan Pediatri Tropis, edisi kedua, 2010, penerbit: Bagian Ilmu Kesehatan Anak Universitas Indonesia

4. Majalah Kesehatan Keluarga Dokter Kita, edisi 3 tahun X Maret 2015, halaman: 27-29

Diterbitkan di Sehati
logo-footer PT. Administrasi Medika


iso-admedika telkomedikalogo metralogo telkomlogo
Official Social Channels   Facebook   Twitter   Twitter   Twitter